Senin, 11 Mei 2015

Praktikum Pembuatan "Silase Ikan" silase ikan nila



BAB I
                                                              PENDAHULUAN  


1.1.  Latar Belakang

Pakan ikan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangan budidaya ikan secara intensif, baik ikan air tawar, ikan air payau, maupun ikan air laut. Sedangkan pakan itu dibutuhkan oleh ikan sejak larva ikan mulai kehabisan cadangan makanannya yang berupa kuning telur (yolk sack) sampai berukuran dewasa, sampai induk dan selama ikan tersebut masih hidup. Fungsi utama pakan adalah untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Alokasi yang utama dari pakan yang dimakan oleh ikan ialah untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan apabila terdapat kelebihan (surplus), kelebihan tersebut akan digunakan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ketersediaan pakan kualitas dan kuantitas yang memenuhi syarat merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya ikan. Penyediaan pakan yang tidak sesuai dengan jumlah ikan yang dipelihara menyebabkan laju pertumbuhan ikan menjadi terhambat.
Membuat pakan buatan dengan cara mencampur beberapa jenis bahan-bahan tertentu. Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pakan buatan adalah kandungan gizi dari bahan-bahan baku penyusunnya. Kandungan gizi bahan-bahan baku pakan buatan sangat menentukan kandungan gizi pada pakan buatan tersebut. Oleh karena itu pemilihan dan seleksi jenis bahan bahan baku sebelum digunakan menjadi kegiatan yang penting dilakukan akan menentukan kualitas pakan yang dihasilkan.
Silase ikan merupakan salah satu jenis bahan baku yang digunakan untuk membuat pakan ikan. Silase ini dapat berasal dari ikan utuh yang kemudian dicincang dan difermentasikan dengan penambahan asam atau berasal dari limbah pengolahan ikan yang difermentasikan. Silase ini dapat berfungsi sebagai bahan pengganti tepung ikan dalam proses pembuatan pakan ikan.

1.2.  Tujuan
Ø  Meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam hal penyediaan bahan baku pembuatan pakan ikan khususnya silase ikan.
Ø  Mahasiswa dapat menyusun formulasi pakan buatan dengan bahan fermentasi.
Ø  Mahasiswa dapat mengetahui keuntungan pakan buatan
Ø  Mahasiswa dapat mengetahui kriteria pakan buatan yang baik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Silase Ikan
Pada dasarnya, prinsip pembuatan silase ikan adalah menurunkan pH ikan agar pertumbuhan maupun perkembangan bakteri pembusuk terhenti. Dengan terhentinya aktivitas bakteri, aktivitas enzim (baik yang berasal dari tubuh ikan itu sendiri maupun dari asam yang sengaja ditambahkan) meningkat. Cara pembuatan silase ini mula-mula dikembangkan oleh Prof. A.I. Virtenen dari Finlandia yang mengawetkan bahan makanan hijauan kemudian mengembangkan proses tersebut dengan menggunakan bahan-bahan yang kaya akan protein termasuk ikan.
Silase ikan ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu unsure yang dicampurkan ke dalam makanan ikan atau makanan ternak lainnya. Penggunaan silase ikan dalam makanan umumnya dimaksudkan untuk menggantikan seluruh atau sebagian tepung ikan di dalam makanan. Penggunaan silase ikan sebagai pengganti tepung ikan dianggap sangat menguntungkan, sebab selain harganya relative murah kualitasnya pun tidak jauh berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 4 kg silase ikan dapat menggantikan 4 kg tepung ikan. Bahkan setelah mengalami perlakuan lebih lanjut, penggunaan silase ikan dapat menghasilkan pertumbuhan ikan yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan tepung ikan.
Komposisi kimia silase ikan relative sama dibandingkan dengan komposisi bahan bakunya, hanya sedikit lebih encer karena penambahan asam. Seilase yang terbuat dari ikan utuh akan mengandung :
Air          : 70,0 – 75,0%
Protein    : 18,0-20,0%
Abu        : 4,0-6,0%
Lemak    : 1,0-2,0%
Kalsium  : 1,0-3,0%
fosfor      : 0,3-0,9%






Proses pemebentukan silase
Seperti yang telah dijelaskan di atas, untuk membuat silase perlu diusahakan agar pH lingkungan rendah. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan menambahkan asam-asam tertentu pada ikan yang akan difermentasi. Umumnya jenis asam yang digunakan adalah asam mineral, asam organic atau campuran dari kedua jenis asam tersebut, tergantung pada produk fermentasi yang hendak dihasilkan. Faktor lain yang dapat mempengaruhi penggunaan asam tersebut adalah harga dan kemudahannya diperoleh di pasaran serta kondisi lingkungan setempat.

























*       
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Peraktikum  Pembuat “Silase Ikan” dilaksanakan pada pukul 13.30 – 16.00 WIB pada hari Senin, 22 Oktober 2013 bertempat di Departemen Perikan VEDCA Cianjur.
3.2 Alat dan Bahan

*      Alat
§   Pengaduk kayu.
§   Pisau.
§   Gilingan daging.
§   Baskom.
§   Timbangan.
§   Talenan.
§   Toples.
*      Bahan
§  Ikan Nila.
§  Asam formiat 85%
§  Asam propionat.
§  Larutan garam.
§  Air.



3.3  Prosedur Pembuatan Silase Ikan Secara Kimiawi.
1.      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.      Timbang ikan 1,5 kg untuk membuat silase ikan.
3.      Bersihkan ikan dari kotoran, Ikan, Cincangan halus menggunakan pisau.
4.      Masukan cincangan ikan kedalam penggilingan lumatkan sampai menjadi hancur dan masukan kedalam wadah pembuatan silase.
5.      Tambahkan asam formiat 85% kedalam wadah yang telah berisi gilingan daging ikan sebanyak 2-3%. Tujuan utama pemberian asam formiat adalah untuk menurunkan pH lingkungan di dalam wadah hingga mencapai 4,5 atau lebih rendah lagi.
6.      Kemudian tambahkan asam propionatsebanyak 1%.
7.      Lakukan pengadukan secara teratur dan merata untuk memperoleh hasil silase yang bermutu harus dilakukan pengadukan sebanyak 3-4 kali sehari selama 4 hari pertama.
8.      Silase ikan pada hari ke-5 biasanya telah menjadi cair dan sudah biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan. Silase di simpan ditempat yangtertutup.
9.      Timbanglah silase yang dihasilkan, catat datanya dan lakukan pembahasan dengan diskusi kelompok.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Tabel 1. Pembuatan silase pakan ikan secara kimiawi
Hari
Pengamatan
1
Aroma : Aroma asam formiat sangat menyengat
Bentuk :Daging ikan cincang masih menggumpal belum ada perubahan
Warna : Warna dari silase ikan berwarna abu-abu
Berat bahan : 1000 g
2
Aroma : Aroma asam formiat dan aroma daging ikan masih menyengat namun tidak setajam hari pertama
Bentuk : Daging sudah mulai hancur karena pencampuran asam formiat tersebut
Warna : Warna dari silase ikan adalah berwarna abu-abu
3
Aroma : Sudah tidak terlalu menyengat
Bentuk : Silase ikan sudah mulai menjadi bubur
Warna :Warna silase sudah mulai berubah menjadi kecoklatan
4
Aroma : Sedikit menyengat dan beraroma daging ikan
Bentuk : Silase masih berbentuk bubur belum mencair
Warna : Warna silase ikan sudah kecoklatan
5
Aroma :  Tidak menyengat lagi
Bentuk : Mengeluarkan cairan tapi , silase belum cair sempurna
Warna : Warna silase ikan sudah kecoklatan

Berat akhir: 866 g



4.2 PEMBAHASAN

Dalam pembuatan silase ini kelompok kami hanya melakukan pembuatan silase secara kimiawi saja, fermentasikan selama 5 hari dengan pengadukan tiap harinya 4-5 hari dengan pemberian asam formiat kedalam cincangan daging ikan. Fermentasi adalah suatu proses penguraian senyawa- senyawa kompleks  yang terdapat didalam tubuh ikan menjadi senyawa- senyawa  yang lebih sederhana oleh enzim atau fermen yang berasal dari tubuh ikan itu sendiri atau dari mikroorganisme, dan berlangsung dalam kondisi terkontrol. Pada saat hari pertama pencampuran warna cincangan ikan yang diberi asam formiat ternyata berubah warna menjadi keabu -abuan, dan setelah mengalami inkubasi dan pengadukan sebanyak 3 kali sehari ternyata terjadi perubahan bentuk cincangan ikan tersebut menjadi hancur dan berair, setelah beberapa hari kemudian cincangan itu bewarna menjadi kecoklatan dan bentuknya pun berubah menjadi  bubur dan bau asam formiat sudah tidak tercium lagi. Maka dari itu dalam pembuatan silase maka kita lakukan penutupan dengan plastik hitam secara rapat agar tidak terjadinya kontaminasi dengan udara luar.

Prinsip pembuatan silase ikan adalah menurunkan Ph ikan agar pertumbuhan maupun perkembang bakteri pembusuk terhenti. Dengan terhentinya aktivitas bakteri, aktivitas enzim,  baik yang berasal dari tubuh ikan itu sendiri maupun dari asam yang sengaja ditambahkan meningkat. Pembuatan silase dilakukan  dengan menambahkan asam- asam tertentu pada ikan yang akan difermentasikan . jenis asam yang digunakan adalah  asam mineral, asam organik atau campuran  dari kedua jenis asam tersebut. Asam organik yang biasa digunakan adalah asam formiat dan asam propionat, kedua asam ini harganya cukup murah dibandingakan dengan asam mineral. Penggunaaan asam ini menghasilkan silase yang tidak asam sehingga dapat berlangsung digunakan sebagai bahan baku. 











BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
1.  Silase merupakan olahan yang bertujuan untuk menggantikan tepung ikan pada saat pembuatan pakan ikan.
2.  Pembuatan silase terbagi menjadi dua cara, yaitu secara biologi dan kimiawi.
3.  Plastik berperan penting dalam pembuatan silase agar tidak terjadinya kontaminasi dari udara luar agar silase tidak mengalami pembusukan.
4.  Jangan lupa dalam penutupan harus serapat mungkin agar tidak terjadinya kontaminasi dalam pembuatan silase.

5.2 Saran
      Saran saya untuk semua mahasiswa yang telah praktek pembuatan silase dapat memperaktekkan nya ketika berada di masyarakat nantinya karena melihat praktikum yang dilakukan sangat mudah.












DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar