Jumat, 29 Mei 2015

Laporan Praktikum Ginogenesis ikan




BAB I
PENDAHULUAN
           
1.1    Latar Belakang
Salah satu kegiatan proses budidaya ikan adalah pengembangbiakan ikan. Ikan yang akan dibudidayakan merupakan ikan yang dapat tumbuh dan berkembang biak sehingga kontinuitas produksi budidaya dapat berkelanjutan. Banyak cara yang telah dilakukan pembudidya untuk  mendapatkan ikan yang berkualitas. Mulai dari selektif breeding metode hibridisasi, sex reversal, hingga poliploidisasi.
Manipulasi kromosom mungkin dilakukan selama siklus nukleus dalam pembelahan sel, dasarnya adalah penambahan atau pengurangan sel haploid atau diploid. Pada ikan dan hewan lainnya dengan fertilisasi eksternal proses dapat dilakukan untuk salah satu gamet sebelum fertilisasi atau telur terfertilisasi pada beberapa periode selama formasi pada zigot (Purdom, 1993). Salah satu metode manipulasi kromosom adalah ginogenesis.
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturukan. Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan.
Ginogenesis buatan dapat dilakukan dengan mutagenesis sperma dengan sinar ultraviolet (UV) dan kejutan panas. Radiasi yang terjadi merupakan proses penyinaran dengan menggunakan bahan mutagen untuk menghasilkan mutan. Sinar ultraviolet (UV) merupakan radiasi yang juga merupakan sinar tidak tampak yang mempunyai panjang gelombang 200-380 nm.
1.2    Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1.      Mahasiswa dapat mengetahui tata cara kerja ginogenesis
2.      Mahasiswa dapat mempraktikannya sendiri di masyarakat
3.      Menambah pengetahuan mahasiswa tentang pembuahan telur
4.      Mahasiswa mengetahui teknik dalam ginogenesis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Mas (cyprinus carpio)
Ikan Mas adalah Jenis ikan konsumsi air tawar. Nama ilmiahnya adalah cyprinus carpio dalam bahasa inggris ikan ini dikenal sebagaicarp fish.
Klasifikasi ikan mas ( Cyprinus carpio ) Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagaiberikut:

Kingdo          :  Animalia
Filum            :  Chordata
Subfilum      :  Vertebrata
Kelas            :  Osteichthyes
Subkelas       :  Teleostei
Ordo             :  Ostariophysi
Subordo        :  Cyprinoidea
Famili           :  Cyprinidae
Genus           :  Cyprinus
Spesie
s          : Cyprinus carpio L
Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).

2.2.  Pengertian Ginogenesis
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturunkan. Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan.
Ginogenesis adalah proses perkembangan embrio yang berasal dari telur tanpa kontribusi material genetic jantan (Thomson, 1983).
Ginogenesis merupakan salah satu proses terjadinya  zigot tanpa materi genetik dari jantan (Purdom1993). Pada mulanya radiadi sperma terjadi secara alami yaitu pada ikan gold fish  (Golovinskaya, 1972 dalam Cerfas 1972 dalam Supiarti, 2007).
Partenogenesis adalah satu-satunya proses reproduksi yang sama sekali tak memerlukan peran pejantan. Keturunan partenogenesis akan betina semua jika dua kromosom yang sama membentuk jenis kelamin betina (sistem kromosomnya XX adalah betina dan XY jantan), salah satunya adalah ginogenesis.
Rekayasa memainkan inti sel telur (pronukleus betina) atau inti spermatozoon dalam proses fertilisasi dapat menciptakan individu baru. Ginogenesis adalah perkembangan sel telur yang hanya dikomandokan oleh inti sel telur saja, sedangkan inti spermatozoon tidak berperan karena tidak melebur menjadi sinkarion. Sebaliknya, apabila yang mengkomandokan perkembangan hanya inti spermatozoon saja, maka disebut androgenesis. (Mammed Sagi, 1995).
Ginogenesis (gynogenesis) merupakan pembuahan palsu yang terjadi karena gamet jantan yang memasuki bakal telur atau ovum tidak membuahinya sehingga akan terjadi parthenogenesis (wikipwdia: 2010)
Ginogenesis adalah proses perkembangan embrio yang berasal dari kuning telur tanpa kontribusi material genetik jantan (irmawan: 2009).
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturunkan. Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan. Nagy et al,. 1978, menyebutkan ginogenesis adalah terbentuknya zigot 2n (diploid) tanpa peranan genetik gamet jantan. Jadi gamet jantan hanya berfungsi secara fisik saja, sehingga prosesnya hanya merupakan perkembangan pathenogenetis betina (telur). Untuk itu sperma diradiasi. Radiasi pada ginogenesis bertujuan untuk merusak kromososm spermatozoa, supaya pada saat pembuahan tidak berfungsi secara genetic (Sumantadinata, 1981).
Bentuk reproduksi aseksual yang berhubungan dengan partenogenesis adalah ginogenesis. Keturunan dihasilkan dengan mekanisme yang sama seperti pada partenogenesis, tetapi dengan ketentuan sel telur harus distilmulasi dengan keberadaan sperma sehingga dapat berkembang. Bagaimanapun juga, sel sperma tidak memberikan kontribusi material genetik apapun kepada hasil keturunan (Wikipedia: 2011).
Ginogenesis merupakan reproduksi seksual yang jarang terjadi pada pembuahan, karena nukleus sperma yang masuk ke dalam telur dalam keadaan tidak aktif, sehingga perkembangan telurnya hanya dikontrol oleh sifat genetik betina saja. Oleh karena itu, keturunannya merupakan replika dari induk betina baik secara marfologi maupun susunan genetiknya (Purdon, 1983).
Rangsangan pembetukan embrio dapat dihasilkan malalui beberapa perlakuan selama pembuahan pada awal perkembangan telur yaitu meradiasi sperma dengan menggunakan bahan mutagen diploidisasi betina dengan kejutan panas. Untuk memastikan  sperma secara genetic dapat digunakan species ikan yang berbedadan sperma yang tidak mampu membentuk hibrida serta syaratnya adalah memilki ukuran sperma halus minimal dengan spcies ikan betina (Anonim 2009).  Ginogenesis dibutuhkan karena pada sebagian besar ikan baik ikan konsumsi dan ikan hias individu betina lebih bermanfaat baik dari kendahan, harga dan pertumbuhan serta untuk memperbanyak keturunanya.



2.3.  Tujuan dan Manfaat Ginogenesis
Ø  Tujuan ginogenesis
1.      Untuk mempercepat silang dalam ikan, hasilna berupa strain murni dengan homozigositas yang tinggi.
2.      Untuk memproduksi keturuna yang semuanya betina, bila digunakan induk yang homogametic (XX).
Ø  Manfaat ginogenesis
1.      Pemurnian gen untuk mendapatkan galur murni hanya dilakukan dua kali perkawinan, sedangkan melalui inbreeding galur murni didapatkan setelah enam kali perkawinan.
2.      Ikan mas betina (2n) pertumbuhannya lebih cepat dibanding ikan jantan.
3.      Ikan mas triploid (3n) juga lebih cepat pertumbuhannya, karena tidak bereprodusi.
Sedangkan menurut Sumantadinata (1997), teknologi ginogenesis memberikan banyak manfaat diantaranya :
1.      Mempercepat proses pemurnian (homozigositas)
2.      Membuat populasi klon hanya dalam dua generasi
3.      Membuat polulasi tunggal kelmin betina, misalnya pada ikan mas
4.      Mempercepat proses seleksi ikan
5.      Mendeterminasi genotip jenis kelamin betina

2.4 Ginogenesis Alami dan Buatan
Ginogenesis secara alami jarang terjadi karena pada umumnya spermatozoa yang membuahi sel telur dalam keadaan aktif (Golovinskaya, 1972). Namun, ginogenesis dapat berlangsung secara spontan seperti Pb II yang akan keluar bertabrakan dengan spermatozoa yang akan masuk sehingga gamet jantan tidak jadi masuk dan Pb II tetap berada pada posisinya (double haploid). Menurut Cherfas (1981), ginogenesis alami dapat terjadi pada ikan crusian carp (Carrasius auratus gibelio) dan vivipar kecil dari family Poeciliidae (Poecilia dan Poeciliopsis). 
Ginogenesis buatan dapat dilakukan dengan mutagenesis sperma dengan sinar ultraviolet (UV) dan kejutan panas. Radiasi yang terjadi merupakan proses penyinaran dengan menggunakan bahan mutagen untuk menghasilkan mutan. Sinar ultraviolet (UV) merupakan radiasi yang juga merupakan sinar tidak tampak yang mempunyai panjang gelombang 200-380 nm.
Ginogenesis buatan dilakukan melalui beberapa perlakuan pada tahapan pembuahan dan awal perkembangan embrio. Perlakuan ini bertujuan :
1.      Membuat supaya bahan genetik jantan menjadi tidak aktif  
2.      Mengupayakan terjadinya diploisasi agar telur dapat menjadi zigot (Nagy, et al,. 1979). Bahan genetik dalam spermatozoa dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gama, sinar X dan sinar ultraviolet (Purdon, 1983). Sinar ultraviolet banyak digunakan, karena murah.
Ginogenesis buatan memungkinkan untuk dilakukan  pada semua spesies ikan yang telah dapat malakukan pembuahan buatan. Ginogenesis juga pada dasarnya mengatasi dua masalah pada pertumbuhan ikan yaitu pertumbuhan zigot. Pertama adalah menonaktifkan materi genetik jantan dan kemudian yang ke dua merangsang diploidisasi. Ginogenesis dibutuhkan karena pada sebagian besar ikan baik ikan konsumsi dan ikan hias individu betina lebih bermanfaat baik dari kendahan, harga dan pertumbuhan serta untuk memperbanyak keturunanya.
Menurut Nagy et al. (1978) dan Sumantadinata (1997), ada dua tahap penting dalam ginogenesis buatan. Pertama menonaktifkan bahan genetic dari gamet jantan, antara lain dapat dilakukan dengan cara radiasi. Kedua meningkatkan jumlah zigot diploid dengan cara pemberian kejutan panas pada fase meiosis II atau meiosis I. penggunaan sinar UV untuk inaktivasi materi genetic lebih banyak digunakan karena selain murah, lebih mudah dan aman digunakan dibandingkan dengan sinar gamma, sinar X dan betta ( Lou dan Purdom 1984; Horvarth dan orban 1995). Perlakuan meradiasi sperma tidak menyebabkan berkurangnya kemampuan sperma sebagai fungsi membuahi telur dan sebagai trigger perkembangan embrio (Streisinger et al. 1981; Arai 2001). Menurut Chourrout (1984), keberhasilan inaktifasi materi genetic jantan dengan cara radiasi sperma, bila membuahi betina akan menghasilkan embrio haploid yang tidak bertahan hidup. Menurut Sumantadinata et al. (1990), padaginogenesis ikan mas, proses radiasi sperma dapat dilakukan dengan menggunakan dua lampu UV yang masing-masing berkekuatan 15 watt untuk meradiasi sperma dengan jarak penyinaran 15 cm.

2.5.  Perlakuan Ginogenesis
Untuk mendapatkan benih ikan yang monosex secara ginogenesis ada beberapa perlakuan yang dapat dilakukan yakni antara lain:
1.      Penyinaran sperma dengan sinar ultraviolet
Sebelum sperma dicampur dengan sel telur (pemijahan buatan) sperma tersebut diberi perlakuan penyinaran dengan sinar UV. Hal ini dilakukan untuk merusak bahan genetik sperma. Komposisi kimiawi sperma pada plasma inti (nukleoplasma) diantaranya adalah DNA, Protamine, Non Basik Protein. Sedangkan seminal plasma mengandung protein, potassium, sodium, calsium, magnesium, posfat, klarida. Sedangkan komposisi kimia ekor sperma adalah protein, lecithin dan cholesterol (Gusrina, 2008).
Sinar ultraviolet dengan panjang gelombang di bawah 300 nm dapat diserap secara kuat oleh bahan biologi tertentu, terutama asam nukleat, protein, dan koenzim. Tetapi sinar ini tidak sampai mengionisasi atom-atom dan molekulnya disamping itu kemampuan sinar ultraviolet untuk menembus bahan sangat terbatas. Walaupun sinar ultraviolet yang dapat masuk ke bahan biologi tersebut sedikit, tetapi hampir semua diserap. Hal ini berarti efisiensi penyerapan sinar ultraviolet olleh bahan-bahan biologi sangat tinggi. Pada panjang gelombang hingga 260 nm sinar UV dapat merusak fungsi pirimidin AND yang merupakan bahan genetic sperma. Walapun sperma diradiasi namun tidak sampai merusak kemampuannya untuk bergerak dan membuahi telur. Dengan demikian sperma ini masih mampu untuk memicu untuk terjadinya pembuahan dan perkembangan telur.
2.      Perlakuan kejut suhu
Setelah sperma diberi perlakuan penyinaran kemudian dicampur dengan sel telur dan dilepaskan dalam air agar terjadi pembuahan. Setelah pembuahan terjadi kemudian telur yang terbuahi tersebut diberi kejutan lingkungan. Hal ini dapat berupa kejut suhu atau dengan tekanan hidrostatis. Perlakuan dengan tekanan hidrostatis memerlukan peralatan yang rumit, mahal sehingga suli untuk diterapkan telur dalam jumlah banyak namun metode ini efektif untuk memproduksi tingkat heterozigositas nol persen. Kejut suhu lebih praktis dalam penggunaannya sehingga bisa diterapkan pada jumlah yang banyak. Kejut suhu dimaksudkan untuk pencegahan keluarnya polar body II telur pada saat terjadi pembelahan miosis kedua atau pencegahan pembelahan sel setelah duplikasi kromosom pada saat terjadi pembelahan mitosis pertama sehingga jumlah kromosom telur mengganda lagi pada awal perkembangan zigot (Nagy et al:, 1978). Kejut suhu disini berupa kejutan panas dan kejutan dingin. Pemberian kejutan panas lebih singkat periodenya dibandingkan dengan kejut dingin.
Pada saat oogenesis (proses pembentukan sel telur hingga siap untuk ovulasi), sel telur belumlah dalam keadaan 2N  melainkan 4N. Saat pembelahan sel miosis I terjadi,saat itu dikatakan  sel telur telah matang. Saat itulah ada "loncatan" polar body I (2N), sehingga sel telur yang awalnya 4N menjadi 2N. Pembelahan sel secara miosis, ada pengurangan set kromosom menjadi setengah dari semula. Perbedaannya dengan pembelahan sel mitosis (pembelahan yang ditandai dengan penggandaan atau perbanyakan jumlah sel).
Satu buah sel telur yang memiliki dua set kromosom (2N) dan satu buah sel sperma memiliki satu set kromosom (1N). Jika keduanya kita pasangkan, maka terjadilah pembuahan. Setelah sel telur dibuahi oleh sperma, maka satu set kromosom sperma memasangkan diri terhadap satu set kromosom pada sel telur. Dan sebagai akibatnya, ada satu set kromosom sel telur yang tidak mendapatkan pasangan. Itulah yang kemudian dipahami oleh beberapa peneliti, bahwa polar body II yang berisi satu set kromosom (1N) akan "ke luar" dari sistem. Satu set yang tidak memiliki pasangan kromosom itu akan  ter denaturasi. Dengan terjadinya, maka sel telur yang sudah dibuahi tersebut, kembali pada kondisi normal (2N) dan menyiapkan diri untuk melakukan proses berikutnya; yakni pembelahan sel mitosis.
Jika proses keluarnya polar body II kita ganggu dengan kejut suhu di atas hingga mengalami kegagalan, maka tentu saja sel telur yang sudah dibuahi itu akan tetap memiliki tiga set kromosom; dua set dari sel telur dan satu set dari sel sperma. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai triploid atau individu yang memiliki tiga set kromosom (3N). Karena materi genetic sperma telah rusak maka yang akan berkembang dan mengalami pembelahan hanya pada set kromosom telur dari induk betina. Oleh karena itu ginogenesis hanya akan menghasilkan anakan yang sama dengan sifat induknya jika metode ini berhasil.
Ginogenesis dapat digunakan untuk pemurnian ikan menggantikan teknik perkawinan sekerabat.  Menurut Rohadi, D. S, (1996) dengan ginogenesis buatan dapat menghasilkan ikan bergalur murni dengan sifat homozigositas. Hasil pemurnian ikan dengan metode ginogenesis selama satu generasi sama dengan hasil tujuh sampai delapan generasi perkawinan sekerabat sedangkan homozogositas satu generasi ikan ginogenesis sama dengan homozigositas tiga generasi ikan hasil perkawinan sekerabat. Keberhasilan dari metode ini ditentukan oleh umur zigot, lama waktu kejutan dan suhu kejutan panas yang digunakan. Lamanya kejutan suhu, pemilihan waktu yang tepat serta suhu perlakuan yang tepat adalah spesifik atau khas untuk masing-masing jenis ikan.
                                                                              







BAB III
METODELOGI
3.1.  Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan praktikum “Teknologi Gynogenesis pada Ikan Mas” dilakukan pada :
*      Tanggal   :  26 September 2013
*      Hari         :   Kamis
*      Waktu     :   08.00 – 11.30 WIB
Praktikum dilaksanakan di Departemen Perikanan PPPPTK Pertanian Cianjur.
3.2.  Alat dan Bahan

ü Alat
-       Seser
-       Toples
-       Akuarium (80 x 40 x 40) cm
-       Spuite 3 ml
-       Timbangan
-       Penggaris
-       Alat tulis
-       Aerasi
-       Batu aerasi
-       Selang aerasi
-       Sponge
-       Gelas ukur
-       Cawan petri
-       Mangkuk plastic
-       Lempengan kaca
-       Heater
-       Kotak UV
-       Bulu ayam
-       Alat ukur kualitas air
-       Mikroskop
-       Objek glass
-       Cover glass

ü Bahan
-       Air tawar
-       Hormone ovaprim
-       Larutan fisiologis
-       Larutan pembuahan
-       Akuadest
-       Induk ikan mas jantan dan betina yang telah matang gonad
-       Tissue
-       Pakan larva dan benih


3.3.  Prosedur Pelaksanaan
ü  Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
ü  Siapkan wadah penampungan induk sememtara
ü  Lakukan seleksi pada induk yang akan digunakan baik jantan maupun betina
ü  Lakukan penimbangan induk untuk mengetahui bobot tubuh induk yang akan digunakan
ü  Lakukan penyuntikan pada indu betina dengan menggunakan larutan hrmon ovaprim, dosisnya 0,2 ml/kg induk dengan pengenceran 2 kali lipat menggunakan aquadest
ü  Kemudian masukkan induk dalam wadah penempungan sementara yang berbeda
ü  Lakukan striping pada induk jantan untuk mendapatkan spermanya. Kemudian diencerkan dengan menggunakan larutan fisiologis dengan pengenceran sebanyak 100 kali ( 1 cc sperma : 99 cc larutan fisiologis)
ü  Lakukan stiping pada induk betina dengan mengurut pada bagian perut untuk mengeluarkan telurnya setelah 12 jam dari penyuntikan. Tamping telur pada wadah mangkuk plastic, dan usahakan mangkuk dalam keadaan kering, dan hindari telur terkena air
ü  Tuangkan sperma yang telah diencerkan pada tahap 7 kedalam cawan petri dengan ketebalan sperma 1 mm. lakukan radiasi atau penyinaran terhadap sperma menggunakan sinar UV selama 2 menit.
ü  Lakukan pembuahan / fertilisasi dengan menggunakan telur hasil striping dengan larutan sperma dan diaduk secara merata menggunakan bulu ayam secara perlahan
ü  Letakkan / tebar telur yang telah terbuahi pada lempengan kaca dan inkubasi di dalam akuarium penetasan.
ü  Setelah 3 menit pembuahan dilakukan diploidisasi untuk gynogenesis meitotik dan 29 menit dari fertilisasi dilakukan diploidisasi untuk gynogenesis mitotic dengan menggunakan kejut suhu panas (perendama menggunakan media bersuhu 40oC selama 1,5 menit)
ü  Kemudian pindahkan telur yang sudah diberi kejut suhu pada media penetasan (berupa akuarium yang dilengkapi dengan heater)
ü  Lakukan pengamatan perkembangan telur setiap 1 jam sekali hingga telur menetas dan jangan lupa lakukan proses pembuahan telur dan sperma control tanpa perlakuan
ü  Simpulkan dan buat dalam bentuk laporan.

3.4.  Analisis Data















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.  Hasil
Kami mohon maaf atas hasil dari kelompok kami tentang ginogensis kepada ibu dosen pengajar, sebab kami tidak memperoleh hasil yang dapat dilaporkan (gagal), Karena terjadi kesalahan fatal yang menjadi  faktor penyebab kesalahan dalam praktikum ini seprti pada 2 induk betina ikan mas, yang 1 induk  telah  melebihi batas waktu pijah sehingga induk menyerap kembali telur yang ada di dalam tubuhnya,  sedangkan yang 1 induk lagi belum matang gonad. Sehingga bisa dikatakan telur pada praktikum kami ini tidak mendukung hingga terjadi kegagalan seperti ini.



4.2.Pembahasan

Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturunkan. Ginogenesis merupakan keturunan yang dihasilkan melaui mekanisme partenogenesis, tapi telur membutuhkan rangsangan dari sperma untuk berkembang. Namun, sel sperma tidak menyumbangkan materi genetic apapun pada anak.
Sebelum melakukan ginogenesis buatan dengan kejutan suhu pada ikan mas , dilakukan penyuntikan induk ikan mas (ciprinus carpio.) dengan Ovaprime, dengan tujuan mempercepat pematangan gonad. ovaprime merupakan produk yang mengandung 20µg D-Arg6, Pro9-Net sGnRH dan 10 mg domperidone per ml propylene glycol. Ovaprim telah teruji dan terbukti efektif pada ikan, dimana secar signifikan mendorong pematangan tanpa mempengaruhi kemampuan hidup dan fekunditas suatu ikan. Proses selanjutnya adalah menghancurkan materi genetik sperma dengan sinar ultraviolet (UV), dengan tujuan menonaktifkan material genetik sperma melalui radiasi dengan bahan mutagen sehingga sperma hanya mampu merangsang perkembangan telur tanpa menurunkan sifat genetik. Perlakuan meradiasi sperma tidak menyebabkan berkurangnya kemampuan sperma sebagai fungsi membuahi telur dan sebagai trigger perkembangan embrio (Streisinger et al. 1981; Arai 2001).  Dunham (2004) dalam Yusrizal (2004) menyatakan bahwa bahan mutagen yang dapat merusak gen pada sperma ada bermacam-macam yaitu sinar gamma, sinar ultraviolet (UV), dan sinar X.  
Setelah peradiasian sinar UV dilakukan pengecekan sperma. Hal tersebut untuk melihat motilitas Jika sperma motil tanpa materi genetik di dalamnya maka dapat dilakukan perlakuan ginogenesis selanjutnya. Jika sperma itu nonmotil atau mati maka ginogenesis tidak dapat terjadi yang terjadi hanya diploidisasi biasa.Sel sperma motil tanpa materi genetik yang di dapat dicampurkan dengan sel telur. Tujuannya untuk melakukan pembuahan. Pada proses ini sperma bergerak mencari sel telur yang akan dibuahi.
Kemudian dilakukan kejutan suhu, perlakuan ini bertujuan untuk mencegah pengurangan kromosom betina pada proses perkembangan telur yang akhirnya dapat menghasilkan zigot yang diploid dan homozigot sebab pada dasarnya embrio ginogenetik adalah haploid. Pembentukkan diploid ginogenetik dengan menggunakan kejutan panas lebih baik dibandingkan dengan menggunakan kejutan dingin. Lama kejutan, suhu dan waktu awal kejutan yang diberikan setelah pembuahan untuk tiap jenis sperma dalam tiap petridisch.
Kejutan diberikan pada saat yang tepat setelah pembuahan (Hallebecq et al. 1986), pada saat meiosis kedua atau pertama (Lou dan Purdom 1984; Taniguchi et al. 1988; komen et al. 1988). Pemberian kejutan panas pada saat meiosis kedua dimaksudkan untuk menahan keluarnya badan polar kedua sehingga menghasilkan diploid ginogenetik. Sedangkan pada mitosis pertama, kejutan panas akan menghalangi pemisahan genom haploid maternal yang telah mengalami segregasi total sehingga menghasilkan zigot diploid (double haploid) (Chourrout, 1984).
Ginogenesis secara spontan dapat terjadi akibat tertahannya polar body II oleh spermatozoa. Hal ini disebabkan pada saat polar body II akan keluar bertabrakan dengan spermatozoa yang akan masuk ke dalam mikrofil sehingga polar body II tidak jadi keluar dan spermatozoa terpental keluar, akibatnya gamet jantan digantikan oleh polar body II sehingga ploidi tetap dua. Sedangkan pada ginogenesis buatan dilakukan dengan cara memanipulasi kromosom. Diploid ginogenetik meiotik diperoleh dari tertahannya polar body II oleh kejutan panas pada saat meiosis kedua sedangkan diploid ginogenetik mitotik diperoleh akibat tertahannya pembelahan pertama sel sehingga sel yang terbentuk menjadi diploid.
Menurut Taniguchi et al. (1988), diploid ginogenetik yang dihasilkan dari perlakuan diploidisasi pada saat meiosis kedua dinamakan diploid ginogenetik meiotic (G2N-meiotik/meiogen), sedangkan diploid ginogenetik yang dihasilkan pada perlakuan diplodisasi saat mitosis pertama dinamakan diploid ginogenetik mitotic (G2N-mitotik/mitogen). Menurut Tave (1986) dan Purdom (1993), individu ginogen dimungkinkan mengalami penyimpangan biologis maupun fisiologis yang diduga terkait dengan proses ginogenesis maupun munculnya gen-gen resesif yang tidak menguntungkan.

















BAB V
PENUTUP

5.1.Kesimpulan

·            Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan, gamet jantan  hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur tanpa menurunkan sifat-sifat genetiknya.
·            Tujuan dari ginogenesis salah satunya adalah untuk mempercepat silang dalam ikan, hasilna berupa strain murni dengan homozigositas yang tinggi, sehingga dapat mempercepat proses pemurnian (homozigositas).
·            Ginogenesis dapat terjadi secara alami atau buatan, ginogenesis secara alami jarang terjadi karena pada umumnya spermatozoa yang membuahi sel telur dalam keadaan aktif atau ginogenesis berlangsung secara spontan. Sedangkan ginogenesis buatan dapat dilakukan dengan mutagenesis sperma dengan sinar ultraviolet (UV) dan kejutan panas.

5.2 Saran
            Saran saya untuk para mahasiswa yang hendak praktikum agar menyapkan alat dan bahan yang baik, agar praktikumnya berjalan lancar.












DAFTAR PUSTAKA

·         Anonim, 2009. Triploididasi
·         Sagi, mammed. 1995. Embriologi dari Abad sebelum Masehi sampai Abad Bayi Tabung. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta

1 komentar:

  1. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan hormon B-Estradiol untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus