Sabtu, 23 Mei 2015

Pengamatan Struktur Anatomi Organ Reproduksi Ikan Hipothalamus dan Hipofisa




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Perkembangan telur dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar dari ikan (lingkungan dan pakan). Pengaruh faktor lingkungan terhadap gametogenesis dibantu oleh hubungan antara poros Hipotalamus-Pituitary-Gonad melalui proses stimulisasi atau rangsangan. Hormon-hormon yang ikut dalam proses ini adalah GnRH dan Steroid. Keadaan ini memungkinkan untuk perlakuan pemberian hormone baik melaui penyuntikan, implantasi dan
pakan. Hormon sangat penting dalam pengaturan reproduksi dan sistem endocrine yang ada dalam tubuh, yang reaksinya lambat untuk menyesuaikan dengan keadaan luar.
Hasil kegiatan sistem endocrine adalah terjadinya keselarasan yang baik antara kematangan gonad dengan kondisi di luar, yang cocok untuk mengadakan perkawinan. Aktivitas gonadotropin terhadap perkembangan gonad tidak langsung tetapi melalui biosintesis hormon steroid gonad pada media stadia gametogenesis, termasuk perkembangan oosit (vitelogenesis) pematangan oosit, spermato-genesis dan spermiasi.
Hormon gonadotropin dengan glicoprotein rendah dapat mengontrol vitelogenesis, sedangkan yang tinggi mengakibatkan aksi ovulasi. Hormon tiroid akan aktif bersinergi dengan gonadotropin untuk mempengaruhi perkembangan ovari dan kemungkinan lain juga untuk meningkatkan sensitivitas pengaruh gonadotropin. Sel target hormon gonadotropin adalah sel teka yang merupakan bagian luar dari lapisan 105 folikel. Pada ikan goldfish dan rainbowtrout dihasilkan 17α- hidrokxy-20β-dihidroxyprogresterone (17 α, 20β-Pg) oleh lapisan folikel sebagai respon terhadap aktifitas gonadotropin untuk merangsang kematangan telur. Teori yang lain kontrol endokrin terhadap kematangan oosit dan ovulasi pada teleostei adalah GTH merangsang (a) sintesa steroid pematangan pada dinding folikel (ovari) dan (b) sekresi mediator ovulasi.(Gusrina,2008).

1.2.Tujuan Praktikum
a)      Mahasiswa Mampu melakukan pembedaan untuk pengamatan organ-organ reproduksi dan kelenjar hifopisa.
b)      Mengetahui organ-organ reproduksi ikan  jantan teleoste
c)      Mengetahui organ-organ reproduksi ikan betina teleoste
d)     Mengetahui struktur hipothalamus-hifopisadan gonad ikan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kelenjar Hypothalamus

            Kelenjar endokrin pada ikan menurut Lagler et al (1962) terdapat pada beberapa organ antara lain adalah pituitary, pineal, thymus, jaringan ginjal, jaringan kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannous, thyroid, ultibranchial, pancreatic islets, intestinal tissue, interstitial tissue of gonads dan urohypophysis. Kelenjar endokrin pada ikan
menghasilkan jenis hormone tertentu, seperti pada kelenjar utama pada ikan adalah pituitary dimana pada kelenjar tersebut menghasilkan sembilan macam sel penghasil hormone yaitu prolactin (PL), corticotrophs (CT), Gonadotrophs (GTH), Somatotrophs (STH), Thyrotrophs (TSH), Melanotrophs (MSH) dan Neurosecretory nerve ending (NS). Hormon yang terdapat pada kelenjar pituitary antara lain adalah Oxytocin yang berfungsi merangsang konstraksi urine dan kelenjar susu, Anti Diuretic Hormone (ADH) yang berfungsi menaikkan tekanan darah lewat aksinya padaarteriola dan menggiatkan reabsorbsi air dari tubuli ginjal serta hormon ini sangat penting dalam osmoregulasi yaitu pengaturan tekanan osmosis
cairan tubuh. Hormon selanjutnya yang dihasilkan dari anterior pituitary adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang merangsang produksi gamet oleh gonad atau merangsang
pematangan gonad (vitellogenesis), Luteinezing Hormone (LH) yang merangsang produksi sex hormone yaitu testosterone, estrogen, progesterone atau merangsang pematangan akhir.

2.2. Kelenjar Hipofisa
Kelenjar hipofisa banyak sekali mengandung hormon terutama hormon yang berhubungan dengan perkembangan dan pematangan gonad. Hormon tersebut diantaranya adalah Gonadotropin yaitu GTH I dan GTH II, sehingga ekstrak kelenjar hipofisa sering digunakan
sebagai perangsang pematangan gonad. Letak kelenjar hipofisa ini terdapat pada bagian otak sebelah depan. Kelenjar ini menempel pada infundubulum dengan suatu tangkai
yang pendek, agak panjang atau pipih bergantung pada jenis ikannya.
                                                                  

2.3. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Nila

Kordy K.(2000) membuat catatan tentang bentuk tubuh (morfologi) seekor ikan nila (Oreochromis niloticus) secara umum, yaitu mempunyai bentik badan pipih ke samping memenjang, warna putih kehitaman, makin ke perut makin terang. Ikan nila mempunyai garis vertikal 9-11 buah berwarna hijau kebiruan. Mata ikan nila tampak menonjol agak besar dengan bagian tepi berwarna hijau kebiru-biruan. Letak mulut ikan terminal, posisi sirip perut terhadap sirip dada thorocis, garis rusuk (linea lateralis) terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang diatas sirip dada, jumlah sisik pada garis rusuk 34 buah dan tipe sisik stenoid.
Penamaan ikan nila dan mujair di Indonesia menjadi Oreochromis nilotikus dan Oreochromis mossamicus (Sugiarto, 1988). Sehingga klasifikasi ikan nila sebagai berikut :


Filum               : Chordata
Kelas               : Pisces
Ordo                : Percomorphi
Famili              : Cichlidae
Genus              : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis nilotikus



Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebut omnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dari luar selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air (Djarijah, 1995).





2.4. Morfologi Dan Klasifikasi Ikan Lele
            Ikan-ikan marga Clarias ini dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm.
Pada ikan lele, gonad ikan lele jantan dapat dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil dari pada betinanya. Sedangkan, gonad betina ikan lele berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua bagian sisinya mulus tidak bergerigi. Sedangkan organ – organ lainya dari ikan lele itu sendiri terdiri dari jantung, empedu, labirin, gonad, hati, lambung dan anus (Fujaya, Y. 2004).

            Kingdom    : Animalia                    
Filum          : Vertebrata
Class           : Pisces
Ordo            : Ostariophysoidei
Family         : Claridae
Genus          : Clarias
Spesies        : Clarias gariepinus



2.5. Ikan Mas (cyprinus carpio)
Ikan Mas adalah Jenis ikan konsumsi air tawar. Nama ilmiahnya adalah cyprinus carpio dalam bahasa inggris ikan ini dikenal sebagaicarp fish.
Klasifikasi ikan mas ( Cyprinus carpio ) Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagaiberikut:

Kingdo          :  Animalia
Filum            :  Chordata
Subfilum      :  Vertebrata
Kelas            :  Osteichthyes

Subkelas       :  Teleostei
Ordo             :  Ostariophysi
Subordo        :  Cyprinoidea
Famili           :  Cyprinidae
Genus           :  Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).








BAB III
METODELOGI


3.1. Waktu dan Tempat
            Waktu yang digunakan selama praktikum selama 2 x 30 menit, mulai dari jam 13:30 sampai selesai, bertempat di Depertemen Budidaya Perikanan Jawa Barat (Vedca)
.
            3.2. Alat dan Bahan
            a. Alat
1) Timbangan
2) Penggaris
3) Peralatan Bedah
4)  Nampan
5) Tissue
6) Lap
7) Gelas Objek
8) Lup
9) Mikroskop

b. bahan
1) sampel calon induk ikan jantan
2) sampel calon induk ikan betina


3.3. Langkah Kerja

a)      Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
b)      Ukur panjang dan berat masing-masing ikan sampel
c)      Amati ciri-ciri morfologi (alat kelamin sekunder ikan) pada masing-masing ikan sampel
d)     Bedah bagian perut ikan secara perlahan dan hati-hati dari anus ke arah sirip perut
e)      Regangkan kedua dinding tubuh ikan pada bagian rongga perut sehingga organ dalam terlihat jelas!
f)       Uraikan seluruh organ dalam ikan hingga nampak seluruh bagian organ tanpa merusak organ
g)      Amati dan identifikasi organ-organ yang berperan dalam sistem reproduksi (gonad, saluran reproduksi hingga genital pore), gunakan bantuan lup atau mikroskop jika diperlikan.
h)      Untuk pengamatan struktur hipotalamus-hipofisa lakukan pemotongan kepala ikan dan menyingkap otak ikan sehingga kelenjar hipotalamus-hipofisa terlihat dengan jelas !
i)        Gambarlah/dokumentasi bagian struktur organ hipotalamus-hipofisa ikan dan bagian-bagian yang berdekatan dengan organ tersebut !
j)        Gambarlah/dokumentasikan bagian jaringan-jaringan/saluran yang berhubungan dengan organ gonad ikan
k)      Ambil seluruh bagian organ, letakan pada cawan petri atau nampan, buat potongan melintangpada bagian pangkal, tengah dan ujung gonad.
l)        Amati perbedaan pada masing-masing bagian gonad
m)    Lakukan kegiatan a-h untuk sampel ikan



















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
No
Gambar
                       Keterangan
1
Organ sekunder ikan jantan (teleostei)
Nama                    : Ikan Mas
Berat Ikan             : 275 gr
Panjang ikan         : 24 cm
Ciri-ciri morfologi: perut ikan mengeluarkan sperma kelamin memerah.
2
Anatomi ikan jantan / organ primer (teleostei)
Nama               : Ikan Mas
Berat gonad     : 17,94 gr
Panjang gonad : 7 cm
Ciri-ciri morfologi: perut membuncit, alat kelamin memerah, alat kelamin membulat
3
Organ sekunder ikan betina (teleostei)
Nama            : Ikan Mas
Berat Ikan     : 225 gr
Panjang ikan : 25,7 cm
Ciri-ciri morfologi : perut ramping, alat kelamin berbentuk lonjong, dan warna tubuhnya lebih cerah.
4
Anatomi ikan betina / organ primer (teleostei)
Nama                    : Ikan Lele
Berat gonad          : 19,28 gr
Panjang gonad      : 7 cm
Ciri-ciri morfologi: perut membuncit, alat kelamin memerah.
5
Struktur hipotalamus-hipofisa dan gonad
Organ: terletak di bawah otak
Ukuran:seperti butiran kecil di         bawah otak
Ciri-ciri:bulat seperti butiran kecil
Fungsi organ: sebagai tempat atau titik rangsangan pada ikan untuk memijah dan hormon LH-RH
6
Anatomi ikan jantan/organ primer (teleostei)
Nama : Ikan Lele
Berat gonad: 0,72 gram
Panjang gonad : 4 cm
Ciri-ciri morfologi: warna putih pucat
7
Organ sekunder ikan jantan
Nama: Ikan Lele
Berat ikan: 250 gr
Panjang ikan: 33 cm
Ciri-ciri morfologi: alat kelamin memerah, bentuk kelamin membundar
8
Organ sekunder ikan jantan (teleostei)
Nama: Ikan Nila
Berat Ikan: 250 gr
Panjang ikan: 21,5 gr
Ciri-ciri morfologi: pangkal ujung kelamin memerah
9
Organ sekunder ikan betina (teleostei)
Nama: Ikan Nila
Berat Ikan: 200 gr
Panjang ikan: 21,5 gr
Ciri-ciri morfologi: perut membuncit, alat kelamin memerah.
10
Anatomi ikan jantan/ organ primer (teleostei)
Nama: Ikan Nila
Berat gonat: 0,60 gr
Panjang gonad: 7 cm
Ciri-ciri morfologi: warnanya merah kehitam-hitaman
11
Anatomi ikan betina/ organ primer
Nama: Ikan Nila
Berat ikan:
Panjang ikan:
Ciri-ciri morfologi: bentuk sedikit memanjang, berwarna kemerah-merahan.



Gambar .1 Pengambilan Kelenjar Hipofisa pada ikan Mas
Gambar .2 Gonad Pada Ikan lele jantan
Gambar .3 Pengambilan Kelenjar Hipofisa Pada ikan lele
4.2. Pebahasan
            Sistem reproduksi pada ikan merupakan system yang meliputi proses yang akhirnya menghasilkan keturunan ( individu baru ) untuk mempertahankan kelestarian spesiesnya. System reproduksi terkait dengan sistem saraf dan hormon. Untuk menghasilkan keturunan secara alamiah diperlukan sel – sel kelamin, yaitu gonad jantan (sperma) dan gonad betina (ovarium).
Dalam mempelajari sistem reproduksi, selain melihat jenis kelaminnya juga penting diketahui tingkat kematangan gonadnya (TKG). Mengidentifikasi tingkat kematangan gonad dapat dilakukan pendugaan tentang waktu atau musim pemijahan, tempat pemijahan, dan persiapan induk ikan untuk dipijahkan. Penentuan tingkat pematangan gonad dapat berdasarkan ukuran, bentuk, serta warna gonad atau berdasarkan pengamatan histologi (Tim Asisten ABI).
Tingkat kematangan gonad ialah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Penambahan berat gonad (ovarium) pada ikan betina adalah antara 10 - 25% dari berat tubuh, sedangkan gonad (testis) ikan jantan 5 - 10%. Pengetahuan mengenai tingkat kematangan gonad ini diperlukan untuk membedakan antara ikan yang akan memijah atau tidak, serta untuk menduga bilamana ikan akan memijah, baru memijah atau selesai memijah. Pengamatan kematangan gonad dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara histologi dan morfologi
.
Kelenjar endokrin pada ikan menghasilkan jenis hormone tertentu, seperti pada kelenjar utama pada ikan adalah pituitary dimana pada kelenjar tersebut menghasilkan sembilan macam sel penghasil hormone yaitu prolactin (PL), corticotrophs (CT), Gonadotrophs (GTH), Somatotrophs (STH), Thyrotrophs (TSH), Melanotrophs (MSH) dan Neurosecretory nerve ending (NS). Hormon yang terdapat pada kelenjar pituitary antara lain
adalah Oxytocin yang berfungsi merangsang konstraksi urine dan kelenjar susu, Anti Diuretic Hormone (ADH) yang berfungsi menaikkantekanan darah lewat aksinya pada
arteriola dan menggiatkan reabsorbsi air dari tubuli ginjal serta hormon ini sangat penting dalam osmoregulasi yaitu pengaturan tekanan osmosis cairan tubuh. Kedua hormon tersebut terdapat pada bagian posterior pituitary. Hormon selanjutnya yang dihasilkan
dari anterior pituitary adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang merangsang produksi gamet oleh gonad atau merangsang pematangan gonad (vitellogenesis), Luteinezing Hormone (LH) yang merangsang produksi sex hormone yaitu testosterone, estrogen,
progesterone atau merangsang pematangan akhir. Teori lain untuk pematangan sel telur
adalah adanya hubungan erat antara poros Hipotalamus-Pituitary-Gonad. Hipotalamus akan melepas GnRH jika dopamin tidak aktif. Fungsi GnRH adalah merangsang keluarnya GtH (Gondotropin) yang berada pada Hipofisa. Jika GtH keluar maka hormon Testosteron yang berada pada sel theca keluar, sedangkan hormon Testosteron akan merangsang dikeluarkannya hormon Estradiol-17β yang berada pada sel granulose. Hormon Estradiol-17β ini akan menggertak kerja liver untuk memproses precursor kuning telur (vitellogen) untuk dikirimkan ke sel telur sebagai kuning telur. Dengan demikian pertumbuhan telur terjadi.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Dari Hasil Praktikum kami tentang Gonad Pada ikan Mas,Lele,dan Nila. Dengan cara histologi dilakukan di laboratorium dengan mengamati anatomi perkembangan gonad secara mendetail.
Berdasarkan
hasil  gambar diatas, terlihat tingkat kematangan gonad jantan dan gonad betina dari TKG I – IV. TKG I pada gonad jantan terlihat keadaan gonad masih kosong transparan dan bentuknya mendekati seperti benang, TKG II keadaan gonad mulai sedikit terisi sel sperma, TKG III bentuk gonad mulai terlihat dan mulai banyak terisi sel sperma, sedangkan TKG IV bentuk gonad mulai mendekati sempurna dan lebih banyak terisi sel sperma. Untuk TKG I pada induk betina, keadaan gonad masih kosong transparan, TKG II keadaan gonad mulai sedikit terisi sel telur, TKG III bentuk gonad mulai terlihat dan mulai banyak terisi sel telur, apabila TKG IV bentuk gonad mulai mendekati sempurna dan lebih banyak terisi sel telur.
Kelenjar hipofisa banyak sekali mengandung hormon terutama hormon yang berhubungan dengan perkembangan dan pematangan gonad. Hormon tersebut diantaranya adalah Gonadotropin yaitu GTH I dan GTH II, sehingga ekstrak kelenjar hipofisa sering digunakan sebagai perangsang pematangan gonad. Letak kelenjar hipofisa initerdapat pada bagian otak sebelah depan. Kelenjar ini menempel pada infundubulum dengan suatu tangkai yang pendek, agak panjang atau pipih bergantung pada jenis ikannya.

5.2. Saran
Praktikum yang dilakukan sudah cukup bagus dan membantu mahasiswa dalam mengerti dan mengutahui histologi pada ikan dan skaligus letak hipothalamus dan hipofisa dari berbagai jenis ikan.






DAFTAR PUSTAKA



v  GUSRINA Budidaya Ikan untuk SMK jilid 1 /oleh Gusrina. ---- Jakarta:Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar