Kamis, 07 Mei 2015

Mengidentifikasi Parasit Ikan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Penyakit dan Parasit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan pada ikan dapat disebabkan oleh organisme lain, pakan maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang kehidupan ikan. Ikan dikatakan sakit apabila terjadi gangguan/kelainan baik secara anatomi maupun fisiologinya.
Timbulnya serangan penyakit di kolam merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ikan kondisi lingkungan dan organisme penyakit.interaksi yang tidak serasi ini telah menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit.
Sumber penyakit ikan yang sering menyerang ikan di dalam kolam terdiri dari beberapa kelompok, yaitu hama, parasit dan non parasit. Penyakit ikan yang disebabkan oleh organisme parasit umumnya menimbulkan kerugian cukup besar.
Petani ikan sering terkecoh dalam mendeteksi serangan penyakit yang disebabkan oleh organisme parasit, karena beberapa parasit dapat memperlihatkan gejala penyakit yang sama sehingga petani sering salah menduga. Minimnya peralatan yang dimiliki petani untuk mendeteksi dan mengidentifikasi organisme parasit yang menyerang ikan merupakan factor lain mengapa serangan parasit sulit dicegah.
Hal lain yang sering menyebabkan organisme parasit menimbulkan wabah penyakit adalah terjadinya infeksi sekunder. Tubuh ikan dapat terluka karena gesekan dengan benda keras atau berhasil meloloskan diri dari serangan hama, jika terlambat mengobatinya, tubuh ikan yang luka akan mengalami infeksi sekunder yang disebabkan oleh serangan organisme parasit. Infeksi sekunder yang disebabkan oleh organisme parasit terbukti telah menimbulkan banyak kematian pada ikan.
Serangan organisme parasit terhadap ikan peliharaan dapat disebabkan karena organisme parasit sudah ada di kolam tersebut atau secara tidak sengaja telah didatangkan dari daerah lain. Dalam kondisi lingkungan kolam yang baik, organisme parasit yang ada di kolam maupun ditubuh ikan tidak mampu menyebabkan timbulnya penyakit.
Akan tetapi jika kondisi lingkungan kolam menjadi buruk, daya tahan ikan cenderung menurun dan perkembangan organisme penyakit seringkali menjadi lebih baik. Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila pada kolam yang kurang terawat sering terjadi wabah penyakit, sebab pada kolam semacam ini kondisi tubuh ikan menjadi lemah sehingga tidak akan mampu menahan serangan organisme parasit.
Banyak jenis parasit yang sering menyerang ikan, baik jenis ekstoparasit maupun jenis endoparasit. Setiap jenis parasit menempati bagian tertentu pada tubuh ikan. Sebagai mahasiswa perikanan diharapkan mengenal dan memahami macam-macam parasit yang sering menyerang ikan serta mengetahui keterkaitan antara parasit yang ada dengan perilaku pada ikan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukanlah praktik pengamatan perilaku ikan sakit dan pengamatan parasit pada ikan. Dengan praktik tersebut diharapkan mahasiswa akan lebih paham dengan ilmu yang dipelajarinya.

1.2. Tujuan Praktikum
Ø  Mahasiswa mampu melakukan autopsi ikan untuk mendiagnosa jenis parasit yang menyerang ikan.
Ø  Mahasiswa mampu mengidentifikasi jenis – jenis parasit yang menyerang ikan
Ø  Mahasiswa mengetahui jenis – jenis parasit yang menyerang ikan.
Ø  Mahasiswa semakin paham akan Bahayanya parasit pada ikan jika tak segera di obati.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi ikan Koi


Sebagai “bentuk lain” dari ikan mas, pada da-sarnya hampir seluruh organ tubuh koi sama dengan ikan mas lauk tersebut. Hanya ada beberapa perbe-daan pokok seperti bentuk tubuh ideal, warna ideal, dan beberapa hal yang sifatnya sangat khusus.
Koi mempunyai badan yang berbentuk seperti torpedo dengan perangkat gerak berupa sirip. Ada-pun sirip-sirip yang melengkapi bentuk morfologi koi adalah sebuah sirip punggung, sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, sebuah sirip anus, dan sebuali sirip ekor. Sirip-sirip tersebut sangat penting bagi inereka untuk berpindah tempat. Ibarat manu-sia, ikan pun mempunyai kaki dan tangan. Sirip dada bisa diibaratkan sebagai tangan, sedangkan sirip perut sebagai kaki. Hanya bedanya dengan manusia, tangan dan kaki tidak bakalan tumbuh lagi ketika patah (Jika tidak disambung), sirip-sirip pada ikan koi umumnya akan tumbuh Jika patah atau di-potong.
Untuk bisa berfungsi sebagai alat bergerak, sirip ini terdiri atas jari-jari keras, jari-jari lunak, dan selaput sirip. Yang dimaksud dengan jari-jari keras adalah jari-jari sirip yang kaku dan patah jika di-bengkokkan. Sebaliknya jari-jari lunak akan lentur dan tidak patah jika dibengkokkan, dan letaknya selalu di belakang jari-jari keras. Selaput sirip merupakan “sayap” yang memungkinkan koi mempunyai tenaga dorong yang lebih kuat apabila bere-nang. Selaput inilah yang sering dibabat habis para-sit dan penyakit sehingga sirip koi tampak seperti sisir/sikat. Sirip dada dan sirip ekor hanya mempunyai jari-jari lunak. Sirip punggung mempunyai 3 jari-jari keras dan 20 jari-jari lunak, sirip perut hanya terdiri dari jari-jari lunak, sebanyak 9 buah, sirip anus mempunyai 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak.



2.2 Morfologi dan Klasifikasi Ikan Nila
Kordy K.(2000) membuat catatan tentang bentuk tubuh (morfologi) seekor ikan nila (Oreochromis niloticus) secara umum, yaitu mempunyai bentik badan pipih ke samping memenjang, warna putih kehitaman, makin ke perut makin terang. Ikan nila mempunyai garis vertikal 9-11 buah berwarna hijau kebiruan. Mata ikan nila tampak menonjol agak besar dengan bagian tepi berwarna hijau kebiru-biruan. Letak mulut ikan terminal, posisi sirip perut terhadap sirip dada thorocis, garis rusuk (linea lateralis) terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang diatas sirip dada, jumlah sisik pada garis rusuk 34 buah dan tipe sisik stenoid.
Penamaan ikan nila dan mujair di Indonesia menjadi Oreochromis nilotikus dan Oreochromis mossamicus (Sugiarto, 1988). Sehingga klasifikasi ikan nila sebagai berikut :
Filum               : Chordata
Kelas               : Pisces
Ordo                : Percomorphi
Famili              : Cichlidae
Genus              : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis nilotikus
Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebut omnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dari luar selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air (Djarijah, 1995).





2.3. Parasit dan Penyakit Ikan
Keberhasilan suatu usaha budidaya ikan tidak terlepas dari masalah penyakit dan parasit ikan. Apabila kebersihan kolam, kualitas dan kuantitas air terpefihara dengan baik, kemungkinan terjadinya serangan penyakit atau parasit pada ikan yang dibudidayakan dapat diperkecil. Untuk mengatasi timbulnya masalah penyakit dan parasit pada ikan peliharaan, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara terjangkit maupun penularan penyakit dan parasit .
Adapun caranya adalah sebagai berikut :
v Melalui air, yaitu apabila kita menggunakan air yang telah tercemar oleh bibit penyakit maupun parasit, maka biasanya ikan yang dipelihara akan segera terserang penyakit atau parasit tersebut.
v Melalui kontak atau gesekan secara langsung dengan ikan yang terserang penyakit atau parasit. Penebaran ikan-ikan yang tidak sehat biasanya akan berakibat buruk, terutama jika padat penebaran terlalu tinggi.
v Melalui alat-alat yang telah digunakan untuk menangani atau mengangkut ikan-ikan yang terserang penyakit atau parasit. Sebaiknya peralatan yang digunakan untuk menangani atau mengangkut ikan disterilkan dahulu untuk membunuh penyakit atau parasit.
v Terbawa oleh ikan, makan atau tumbuhan dari daerah asalnya dan berkembang dengan pesat dikolam yang baru. Pemindahan ikan, makanan alami atau tumbuhan dari suatu perairan yang telah tercemar oleh penyakit atau parasit sering menimbulkan masalah yang sama di daerah baru. Seringkali pemindahan ikan, makanan atau tumbuhan dari daerah tidak tercemar oleh penyakit atau parasit, dapat menimbulkan serangan di kolam. Hal ini diduga karena individu tersebut di daerah asalnya tidak dapat berkembang sedangkan di daerah baru karena kondisinya sesuai mereka tumbuh dengan pesat.
Adapun usaha untuk mengatasi masalah penyakit dan parasit pada ikan, dapat dilakukan dengan cara pencegahan atau pemberantasan. Tentu saja kerajinan dan keuletan petani ikan sangat menentukan keberhasilan usaha ini.
2.4. Tanda-tanda Ikan Yang Terserang
Meskipun usaha pencegahan telah dilakukan dengan sungguh-sungguh kadangkala ikan masih juga terserang penyakit maupun parasit. Hall ini mungkin disebabkan karena adanya proses pembusukan di kolam, baik terhadap kotoran hasil metabolisme maupun sisa makanan. Adanya sampah atau zat-zat buangan yang masuk ke kolam juga dapat memperburuk kondisi perairan. Padat penebaran yang terlalu tinggi, kondisi ikan yang lemah atau kualitas makanan yang kurang memenuhi persyaratan dapat juga membantu perkembangan penyakit maupun parasit. Untuk mencegah penyerangan penyakit atau parasit ke seluruh ikan yang dipelihara, perlu diketahui secepat mungkin tanda-tanda terjangkitnya.
Adapun tanda-tanda dari ikan yang telah terkena serangan penyakit atau parasit adalah sbb :
a. Ikan terlihat pasif, lemah dan kehilangan keseimbangan.
b. Nafsu makan mulai berkurang
c. Malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air.
d. Adakalanya ikan bergerak secara cepat dan tiba-tiba.
e. Selaput lendimya berangsur-angsur berkurang atau habis, sehingga tubuh ikan tidak licin lagi (kesat).
f. Pada permukaan tubuh ikan terjadi pendarahan, terutama dibagian dada, perut atau pangkal ekor.
g. Di beberapa bagian tubuh ikan, sisiknya tampak rusak bahkan terlepas. Sering pula terlihat kulit ikan mengelupas.
h. Sirip dada, punggung maupun ekor sering di jumpai rusak dan pecah-pecah, pada serangan yang lebih hebat kadang-kadang hanya tinggal jari-jari siripnya saja.
i. Insang terjadi rusak sehingga ikan sulit untuk bernafas, wama insang menjadi keputih-putihan atau kebiru-biruan.
j. Bagian isi perutnya terutama hati, berwarna kekuning-kuningan dan ususnya menjadi rapuh.

2.3. Penggolongan Penyakit dan Parasit Ikan
Berdasarkan daerah penyebaran, penyakit atau parasit ikan dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu :
1.      Penyakit atau parasit pada kulit
Penyakit atau parasit ini menyerang bagian kulit ikan sehingga dengan mudah dapat dideteksi Organisme yang menyerang bagian kulit dapat berasal dari golongan bakteri, virus, jamur atau lainnya. Bila disebabkan oleh jamur, maka akan terlihat bercak-bercak berwama putih, kelabu atau kehitam-hitaman pada kulit. Ikan yang mengalami serangan penyakit atau parasit pada kulitnya, biasanya akan menggosok-gosokkan badannya kebenda-benda disekelilingnya sehingga sering kali menimbulkan luka baru yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi sekunder.
2. Penyakit atau parasit pada insang
Penyakit atau parasit yang menyerang organ insang agak sulit untuk dideteksi secara dini karena menyerang bagian dalam ikan. Salah satu cara yang dianggap cukup efektif untuk mengetahui adanya serangan penyakit atau parasit pada insang adalah mengamati pola tingkah laku ikan.
Ciri utama ikan yang terserang organ insangnya adalah menjadi sulit untuk bernafas. Selain itu, tutup insang akan mengembang sehingga sulit untuk ditutup dengan sempurna. Jika serangannya sudah meluas, lembaran-lembaran insang menjadi semakin pucat. Sering pula dijumpai adanya bintik-bintik merah pada insang yang menandakan telah terjadi pendarahan (peradangan). Jika terlihat bintik putih pada insang, kemungkinan besar di sebabkan oleh serangan parasit kecil yang menempel.
3Penyakit atau parasit pada organ dalam
Ciri utama ikan yang terkena serangan penyakit atau parasit pada organ (alat-alat) dalamnya adalah terjadi pembengkakan di bagian perut disertai dengan berdirinya sisik. Akan tetapi dapat terjadi pula bahwa ikan yang terserang organ dalamnya memiliki perut yang sangat kurus. Jika pada kotoran ikan sudah dijumpai bercak darah, ini berarti pad usus terjadi pendarahan (peradangan). Jika serangannya sudah mencapai gelembung renang biasanya keseimbangan badan ikan menjadi terganggu sehingga gerakan berenangnya jungkir balik tidak terkontrol.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.    Waktu dan Tempat Praktikum
 Kegiatan praktikum HAMA PENYAKIT IKAN (Identifikasi Parasit Ikan) Dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 30 April 2013, pukul 13.30 – 16.00 WIB. Dan praktikum ini bertempat di Laboratorium dan Hatchery dan kolam Departement Budidaya Perikanan PPPPTK VEDCA Cianjur.
3.2.   Alat dan Bahan

Alat
  • Alat bedah
  • Mikroskop
  • Gelas object
  • Gelas penutup
  • Mistar
  • Timbangan
  • Nampan
  • Baskom
  • Jarum pentul
  • Gelas ukur
  • Alat tulis
Bahan
  • Ikan Nila,Bawal,Koi.
  • Air
  • Tissu



3.2   Langkah kerja
1.    Siapkan Alat dan Bahan yang akan digunakan.
2.    Ambil ikan yang sakit dan timbanglah berat ikan tersebut.
3.    Ukurlah panjang badan ikan yang sakit tersebut dengan menggunakan mistar dari ujung kepala sampai dengan ekor.
4.    Hitunglah Faktor kondisi untuk ikan.
5.    Lakukanlah euthanasia pada ikan yang akan di uji. Dengan cara menutup badan ikan dengan tissue atau kain dan getok kepala ikan dengan menggunakan benda yang keras. Setelah ikan digetok dan ikan tidak sadar, rusaklah otak dengan menggunakan jarum yang terdapat pada alat bedah.
6.    Keriklah permukaan tubuh ikan seperti kulit, sisik, sirip, insang, dan mata ikan, kemudian ulaskan hasil kerikan di atas gelas objek, kemudian ratakan agar ulasan tersebut menjadi tipis. Tutuplah dengan cover glass dan amati di bawah mikroskop. Temukan parasite pada preparat tersebut kemudian catat nama parasite yang anda temukan dan gambarlah parasite tersebut.
7.    Buatlah preparat usapan darah ikan dengan cara menusuk ujung pangkal ekor ikan dengan jarum yang telah disiapkan dalam alat bedah dan usapkan darah yang dihasilkan pada objek glass dan amati di bawah mikroskop.
8.    Ambillah organ dalam ikan, seprti: lambung, jantung, hati, dan usus. Masukkan organ-organ tersebut di dalam cawan petri dan keriklah bagian luar dan dalam organ tersebut untuk melepaskan parasite yang menempel pada organ dalam ikan. Buatlah preparat untuk masing-masing organ tersebut dan amati di bawah mikroskop. Temukan parasite yang terdapat pada organ-organ dalam, catat nama parasit dan gambarkanlah.


















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
Hasil praktikum ( Indentifikasi Parasit)
Nama Ikan
Berat ikan
Panjang ikan
Ikan Bawal
150 gr
17,5 gr
Ikan Koi
110 gr
16 gr
Ikan Nila
100 gr
16,5 gr

Faktor kondisi ikan
Ikan Bawal
Ikan Nila
Ikan Koi
           







Parasit yang berada pada organ dalam tubuh ikan
Parasit pada Lambung
Capilaria, Cestoda
Parasit pada Jantung
Larva Cestoda
Parasit pada Hati
Capillaria, Nemotoba
Parasit pada Usus
Haneguya,Netoba, Cestoba

Hasil kerikan ikan Bawal
Sisik
1. Gyrodactylus
 2. Nematoda
Sirip      
---------
Insang
Caprilaria
Mata
1.Nematoda
  2. Cestoda
Darah 
---------
  
Hasil Kerikan ikan Nila
Sisik
1.Nematod
2. Cestoda
Sirip 
Capilaria
Insang 
1. Caprilaria
 2. Nematoda
3. Branchiomyces
Mata
Capillaria
Darah 
Cryptobia


4.2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang kami lakukan bersama teman-teman dan dibimbing oleh dosen praktek yang sudah profesional dibidang perikanan, bahwa ikan yang kami amati meliputi ikan yang terkena Parasit dan penyakit yaitu; Sebelum dimulai mahasiswa harus sudah mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukn untuk keperluan kegiatan praktikum. Langkah selanjutnya adalah melakukan kegiatan praktikum berdasarkan lembar kerja yang diberikan oleh dosen.
Adapun langkah kerja yang telah dilakukan mahasiswa antara lain :
Ø Mahasiswa melakukan seleksi pada ikan yang akan diamati penyakitnya, ikan yang diseleksi hanya dijadikan sample pengamatan saja. Ikan yang dijadikan sebagai sample pengamatan diantaranya : ikan Nila,ikan Bawal, ikan mas (koi).
Ø Langkah selanjutnya adalah melakukan pengamatan pada fisik luar ikan Mas sehingga dapat dikethui penyakit pada ikan Mas tersebut. pada fisik luar ikan Mas terlihat mencolok dibagian badan terdapat luka memar akibat terserang penyakit, dibagian ekor dan sisik berwarna putih pucat.
Ø Setelah dilakukan pengamatan pada fisik bagian luar, mahasiswa melakukan pengambilan sampling lendir pada bagian badan yang terdapat luka memar kemudian sample lendir tersebut ditaruh di petridish. Sedangkan untuk lendir bagian ekor dan sirip juga di ambil sebagai smple pengamatan. Pengambilan lendir tersebuk menggunakan pisau yang tidak tajam, pisau tersebut berguna untuk pengambilan lendir dan penghanur sample.
Sample yang sudah di tempatkan di petridish hendaknya segera diberikan aquades kemudian ditutup menggunakan tutup petridish supaya tidak cepat kering.
Ø Pada tahap kali ini mahasiswa melakukan pengamatan menggunakan mikroscop sehingga parasit atau penyakit pada ikan dapat diketahui. Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati sample yang sudah di ambil yaitu lendir bagian luar ikan. Selain itu juga mahasiswa melakukan pengamatan pada air rongga milut ikan Mas maka dapat diketahui parasit yang menyebabkan kualitas air mejadi turun.
Ø Langkah selanjutnya mahasiswa melakukan pemotongan pada bagian insang ikan Mas untuk dijadikan sampling pengamatan. Insang tersebut ditempatkan di petridish yang sudah tersedia kemudian di hancurkan supaya insang tersebut menjadi halus. Setelah itu berikan aquades pada sampling insang tersebut kemudian ditutup menggunakan tutup petridish yang telah disediakan.
Lakukan pengamatan pada sampling inang ikan tersebut meggunakan mikroscop, kemudian lakukan pencatatan parasit atau penyakit yang terdapat pada sampling tersebut.
Ø Jika sudah dilakukan pengamatan dan pencatatan pada sampling yang tersebut diatas maka langkah selanjutnya mahsiswa harus melakukan pembedahan pada bagian dalam ikan Mas. Pembedahan tersbut menggunakan gunting pembedah untuk mempermudah pembedahan. Setelah itu mahasiswa juga melakukan pemisahan bagian – bagian dalam perut ikan sehingga dapat mempernudah pengangambilan sampling. Adapun bagian bagian dalam yang dijadikan sample antara lain :Usus, hati, jantung, sisik, mata.
Sampling – sampling tersebut di taruh diatas petridish kemudian dihancurkan menggunakan pisau atau sendok penghancur. Segera berikan aquades pada sampling tersebut dan tutuplah menggunakan tutup petridsh yang telah tersedia.
Ø Langkah selanjutnya mahasiswa melakukan pengamatan menggunakan mikroscop pada sampling yang sudah diambil. Selanjutnya mahasiswa juga mencatat parasit yang terdapat dibagian tubuh atau bagian tubuh ikan Mas.
Dari keseluruhan langkah tersebut di atas maka mahasiswa melakukan perlakuan yang sama pada semua ikan yang dijadikan sampling pengamatan. Selain ikan mas mahasiswa melakukan pengamatan pada beberapa ikan yaitu : Ikan Nila. Dari keseluruhan sampling ikan perlakuan pengamatan sama dengan perlakuan Ikan Mas, Maka dapat Diketahui Beberapa parasit yang telah menyerang.
Pada pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa macam parasit yang dapat mengganggu tumbuh dan perkembangan ikan parasite yang sering terdapat dalam tubuh ikan ialah jenis parasit capillaria karna jenis parasit ini dapat hidup di seluruh organ tubuh ikan baik di anatomi maupun morfologi ikan dan pada bagian darah ikan bawal tidak terdapat parasit yang dapat menggang peredaran darah ikan dan di sirip ikan bawal juga tidak terdapat parasit pada bagian ikan nila hampir seluruh organ tubuhnya terdapat parasit baik di anatomi dan morfologi ikan nila di bagian anatomi terdapat parasit di jantung terdapat larva cestoda,di lambung terdapat capirallia,di usus terdapat, heneguya,netoba,cestoba  dan hanya di hati saja yang tidak terdapat serangan parasit.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Ø  Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ø  Pada pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa macam parasit yang mengganggu tumbuh dan perkembangan ikan parasit yang sering terdapat dalam tubuh ikan ialah jenis parasit capillaria karna jenis parasit ini dapat hidup di seluruh organ tubuh ikan baik di anatomi maupun morfologi ikan.
Ø  Penyakit merupukan salah satu faktor yang menyebabkan kerugian yang besar terhadap usaha bedidaya
Ø  Dalam usaha budiaya haruslah selalu dikontrol dari seranggan hama dan penyakit ikan.
Ø  Denagn adanya praktikum, mahasiswa dapat melihat secra langsung proses pengindefikasi parasit


5.2.  Saran
               Pada saat melakukan praktikum diharapkan kepada semua teman – teman agar dapat melakukan praktikum dengan serius, supaya apa yang kita kerjakan tidak sia-sia.








DAFTAR PUSTAKA


ü  Afrianto dan Liviawaty. 2003. Pengendalian hama dan penyakit ikan. Penerbit kanisius. Yogyakarta


ü  Dana. D dan S. L. Angka. 1990. ‘Masalah Penyakit Dan Bakteri Pada Ikan Air Tawar Serta Cara Penanggulangannya’. Makalah Pada Seminar Nasional II Penyakit Ikan Dan Udang. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Bogor. 121 hal

ü  Djuhanda, T. 1981. Dunia ikan. Armico Bandung. 190 halaman.


ü  Grabda, J. 1991. Marine Fish Parasitology, an Outline. Polish Scientific Publisher. Poland, p: 3-22; 29-31


ü  Susanto, H. 1987. Budaya Ikan di Pekarangan., Penerbit Penebar Swadaya., Jakarta.


ü  Sutriawati, H. 1997. ‘Identifikasi Dan Pengendalian Parasit Pada Ikan Mas Di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Bogor. 32 hal

ü  Irawan .2004. Budidaya Ikan Ait Tawar. Ikan Gurame, Ikan Nila. Kanisius. Yogyakrta.


ü  Kordi .2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. C.V. Aneka. Solo. Kusumamihardja S. 1989. Diktat Parasitologi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Yanong RPE. 2002. Nematode (Roundworm) Infection in Fish. Sirkular 911:33570-3434.


ü  Kottelat, M., A. J, Whitten, S. N. Kartika Sari dan Wirjoatmojo. 1993. ‘Ikan Air Tawar Tawarv Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi’. Jakarta . 293 hal.


ü  Lingga, P dan H. Susanto. 1987. ‘Ikan Hias Air Tawar’. Penebar Swadaya. Jakarta. 236 hal.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar