Senin, 28 Januari 2013

Respon Organisme Akuatik Terhadap Variebel Lingkungan




                             
LAPORAN
PRAKTIKUM

Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan(Suhu dan Salinitas)








DisusunOleh :


Amril Mukminin

Mata Kuliah :Fisiologi Hewan Air
PROGRAM PENDIDIKAN D4    
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) PERTANIAN CIANJUR
JOINT PROGRAM
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
       2012             





KATA PENGANTAR

Syukur AlhamdulillahpenulispanjatkankehadiratTuhan Yang MahaEsa yang telahberkesempatandalammemberikanlimpahankesehatan, rahmatdankarunia-Nyasehinggalaporan hasil praktikum yang berjudulResponOrganismeAkuatikTerhadapVariabelLingkungan (SuhudanSalinitas)inidapatdiselesaikandenganbaik.
Makalahinidisusundalamhaltugas Mata KuliahFisiologi Hewan Air.Atastersusunnyalaporanini, penulisucapkanterimakasihkepada :
1.      BapakLaode M. Abdi Poto, S.St Pi, M.SidanIbu Leli Lisnawati, SPi dan Ibu Yuli ,SPi selakudosen Mata KuliahFisiologi Hewan Air.
2.      Kedua orang tuatercinta yang selalaumemberikando’adandukungannya`.
3.      Semuapihak yang telahmendukungdalampenyelesaianmakalahini.
Penulismenyadaribahwadalampenyusunanmakalahinimasihterlalubanyakkekurangan.Olehkarenaitu, sayaharapkritikdan saran yang membangundariberbagaipihakagar laporanini dan selanjutnyabisalebihbaiklagi.Penulisjugaberharapsemogalaporan hasil praktikuminidapatbermanfaatdalamdalamhalilmupengetahuanbagikitasemua.


                                                                        Cianjur, 14 Desember 2012   
                                                                                               

                                                                                    penulis
                                Amril Mukminin
                                                     

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.1.LatarBelakang.................................................................................................. 1
1.2.Tujuan............................................................................................................... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................... 3
2.1. IkanLele......................................................................................................... 3
2.2. IkanNila.......................................................................................................... 4
2.3. Salinitas............................................................................................................5
2.4. Suhu.................................................................................................................6

BAB III. METODOLOGI................................................................................................ 7
3.1. WaktudanTempat......................................................................................... 7
3.2. AlatdanBahan.............................................................................................. 8
3.3. ProsedurPercobaan....................................................................................... 8
3.4. Analisa Data................................................................................................. 10

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................ 11
4.1. Hasil............................................................................................................. 11
4.2. Pembahasan.................................................................................................. 21

BAB V. PENUTUP........................................................................................................... 24
5.1. Kesimpulan..................................................................................................... 24
5.2. Saran............................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 25









BAB 1

I. PENDAHULUAN
       

1.1.   Latar Belakang

          Melalui matakuliah Fisiologi Hewan Air, kita dapat mempelajari berbagai  perubahan
fisiologis hewan air terhadap perubahan lingkungan. Perubahan fisioolgis ini tentunya dapat diamati melalui perubahan tingkah laku organisme terhadap perubahan parameter fisik, kimia, maupun biologis dari suatu lingkungan. Parameter fisik yang dapat diamati pada lingkungan perairan antara lain jumlah padatan, kekeruhan, salinitas, suhu, warna, dan bau. Parameter kimia antara lain nilai pH, keasaman, DO, BOD, COD, dan bahan pencemar. Sedangkan parameter biologis perhubungan langsung dengan interaksi organisme dengan makhluk hidup lainnya. Salah satu nya dengan mengetahui parameter kualitas air secara kimia yaitu seperti salinitas atau kadar garam dan parameter kualitas air secara fisika yaitu seperti suhu.   
 Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram air laut, seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan bahan organik telah dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat tubuh (Sharaf et al , 2004).
 Suhu merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses budidaya, suhu akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan bila suhu terlalu rendah maka pertumbuhan ikan yang dipelihara akan lambat tumbuh, karena bila suhu rendah maka proses metabolisme ikan akan menjadi lambat dan nafsu ikan akan menurun. suhu harus tepat yaitu kisaran optimum 25 - 30C. Begitu juga sebaliknya, jika suhu terlalu tinggi maka kadar oksigen dalam air akan menipis, sehingga ikan akan bersaing dalam merebut oksigen terlarut didalam air.
             Tentunya dalam mempelajari suatu perubahan tingkah laku fisiologis organisme, tidaklah cukup melalui teori saja. Praktikum merupakan suatu cara pembelajaran yang sangat efektif dimana melalui pengamatan langsung, setiap teori dapat diaplikasikan sehingga mahasiswa mampu menganalisis setiap teori yang telah diperoleh dengan kondisi sebenarnya saat pengamatan.

1.2.    Tujuan
Laporan praktikum ini bertujuan untuk mengetahui respon organisme akuatik terhadap variabel lingkungan (suhu, salinitas) serta mengetahui kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variabel lingkungan. Selain ditujukan sebagai hasil dari uji coba yang telah dilakukan, juga terdapat tujuan lain adalah sebagai berikut :
Ø  Mahasiswa dapat mengetahui kisaran salinitas dan suhu yang optimum bagi kehidupan ikan.

Ø  Mahasiswa dapat mengetahui kisaran salinitas dan suhu yang dapat ditoleransi oleh ikan lele dan nila

Ø  Mengetahui Survival rate atau derajat kelangsungan hidup ikan selama uji coba dilakukan
Ø  Agar mengetahui respon  akuatik( ikan) terhadap suhu sebesar 40C dan salinitas seebesar 10 ppt
Ø  Menambah wawasan kita tentang suhu dan salinitas yang ideal untuk ikan.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air merupakan media bagi usaha budidaya ikan, maka pengelolaan air yang baik merupakan langkah awal dalam pencapaian keberhasilan budidaya ikan. Secara umum pengelolaan kualitas air dibagi kedalam tiga bagian, yaitu secara biologi, kimia dan fisika. Dalam hal ini akan dibahas mengenai pengelolaan air secara kimia, khususnya salinitas (kandungan garam) suatu peraira.    
2.1.  Ikan Lele
Morfologi Dan Klasifikasi Ikan Lele
            Ikan-ikan marga Clarias ini dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm.
Pada ikan lele, gonad ikan lele jantan dapat dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil dari pada betinanya. Sedangkan, gonad betina ikan lele berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua bagian sisinya mulus tidak bergerigi. Sedangkan organ – organ lainya dari ikan lele itu sendiri terdiri dari jantung, empedu, labirin, gonad, hati, lambung dan anus (Fujaya, Y. 2004).


            Kingdom    : Animalia                    
Filum          : Vertebrata
Class           : Pisces
Ordo            : Ostariophysoidei
Family         : Claridae
Genus          : Clarias
Spesies        : Clarias gariepinus


2.2.   Ikan Nila
Morfologi Dan Klasifikasi Ikan Nila
Kordy K.(2000) membuat catatan tentang bentuk tubuh (morfologi) seekor ikan nila (oreochromis niloticus) secara umum, yaitu mempunyai bentik badan pipih ke samping memenjang, warna putih kehitaman, makin ke perut makin terang. Ikan nila mempunyai garis vertikal 9-11 buah berwarna hijau kebiruan. Mata ikan nila tampak menonjol agak besar dengan bagian tepi berwarna hijau kebiru-biruan. Letak mulut ikan terminal, posisi sirip perut terhadap sirip dada thorocis, garis rusuk (linea lateralis) terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang diatas sirip dada, jumlah sisik pada garis rusuk 34 buah dan tipe sisik stenoid.
Penamaan ikan nila dan mujair di Indonesia menjadi Oreochromis nilotikus dan Oreochromis mossamicus (Sugiarto, 1988). Sehingga klasifikasi ikan nila sebagai berikut





Kingdom          : Animalia     
            Filum               : Chordata
            Kelas               : Pisces
            Ordo                : Percomorphi
            Famili              : Cichlidae
            Genus              : Oreochromis
            Spesies            : Oreochromis nilotikus

2.3.    Salinitas
Menurut Boyd (1982) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air, dinyatakan juga bahwa komposisi ion-ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion-ion tertentu seperti sulfat, chlorida, carbonat, natrium, calsium dan magnesium.
Salinitas sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik air, semakin tinggi salinitas semakin besar pula tekanan osmotiknya Semua ikan nila lebih toleran terhadap lingkungan payau,tetapi berbanding terbalik dengan ikan lele.
Menurut Andrianto (2005) Ikan nila tergolong ikan yang dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0 – 35 ppt. Ikan nila merupakan ikan yang biasa hidup di air tawar, sehingga untuk membudidayakan diperairan payau atau tambak perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu secara bertahap sekitar 1 – 2 minggu dengan perubahan salinitas tiap harinya sekitar 2- 3 ppt agar ikan nila dapat beradaptasi dan tidak stres (Andrianto, 2005).
           



         
2.4.    Suhu
Menurut Ghufran (2007), suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik dilautan maupun diperairan air tawar dibatasi oleh suhu di perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat seiring dengan kenaikan suhu, karena dapat menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan suhunya sampai ekstrim (drastis). Suhu air dapat mempengaruhi biota air secara langsung maupun tidak langsung, yaitu melalui pengaruhnya terhadap kelarutan oksigen dalam air. Semakin tinggi suhu air maka semakin rendah daya larut oksigen didalam air, begitupun sebaliknya. Pada suhu 36o C dan salinitas 36 ppt nilai kelarutan oksigen dalam air sebesar 5,53 ppm, sedangkan  pada suhu 30o C dan 25o C serta salinitas yang sama kelarutan tersebut berturut – turut adalah setinggi 6,14 ppm dan 6,71 ppm (Boyd, 1981. Dan saenong, 1992. Dalam Ghufran, 2007).
Oleh karena itu tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik.







BAB III
METODELOGI
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan praktikum Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan (Suhu dan Salinitas), dilakukan secara tidak bersamaan. Praktikum Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan (Suhu) dilakukan pada tanggal 19 Nopember 2012, sedangkan Praktikum Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan (Salinitas), dilakukan pada tanggal 26 Nopember 2012.
Praktikum dilaksanakan pada tempat yang sama, yaitu di Departemen Perikanan Sebelah Barat PPPPTK Pertanian Cianjur.

3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. Alat dan Bahan untuk Suhu

*    Alat
1.      2 buah toples
2.      2 buah selang aerasi
3.      2 buah batu aerasi
4.      Aerator
5.      Thermometer
6.      Stopwach/handphone

7.      Timbangan
8.      Lap/tissu
9.      Alat tulis
10.  Kompor
11.  Seser
12.  Ember





*      Bahan
1.      5 ekor ikan lele
2.      5 ekor ikan nila

3.      Garam
4.      Es batu
5.      Air tawar




3.2.2. Alat dan Bahan untuk Salinitas

*    Alat
1.      2 buah toples
2.      2 buah selang aerasi
3.      2 buah batu aerasi
4.      Aerator
5.      Stopwach/handphone



6.      Timbangan
7.      Lap/tissu
8.      Alat tulis
9.      Kompor
10.  Seser
11.  Ember


*      Bahan
1.      5 ekor ikan lele
2.      5 ekor ikan nila
3.      Garam
4.      Air tawar

3.3. Prosedur Percobaan
3.3.1. Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap Suhu
1. Siapkan dua buah toples (toples A dan toples B)sebagai wadah uji coba yang selanjutnya di isi dengan air tawar, kemudian air dinaikkan atau diturunkan suhunya sesuai dengan suhu yang akan di uji
2. Toples A untuk perlakuan suhu panas (400C) sedangkan toples B untuk perlakuan gradual dingin (29-170C)
3. Siapkan media air tawar yang selanjutnya akan di campur es (es batu) atau  air panas sesuai dengan masing-masing perlakuan.
4. Masing-masing toples di isi air 5 liter
5. Masukkan air panas ke dalam toples A sampai suhu sesuai dengan yang diinginkan dan masukkan es batu ke dalam toples B sampai sesuai dengan suhu dingin yang diinginkan

6. Selanjutnya masukkan ikan uji coba ke dalam toples A dan toples B, terlebih dahulu ikan uji coba di timbang bobot awalnya menggunakan timbangan digital
7. Lakukan pengamatan perubahan tingkah laku ikan. Upayakan suhu dalan toples tetap stabil sesuai dengan perlakuan
8. Terus amati tingkah laku ikan uji coba. Untuk perlakuan gradual dingin (toples A), setiap 10 menit suhu diturunkan 50C sedangkan untuk suhu panas 400C (toples B), suhu dibiarkan konstan.
9. Setelah waktu praktikum selesai, timbang kembali ikan uji coba untuk mengetahui bobot akhirnya.
10. Selanjutnya hitung berapa ekor ikan uji yang hidup dan berapa ekor pula ikan uji yang mati untuk mengetahui survival rate.

3.3.2. Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap Salinitas
1. Siapkan dua buah toples (toples A dan toples B) sebagai wadah uji coba yang selanjutnya di isi dengan air tawar, kemudian air dinaikkan atau diturunkan salinitasnya sesuai dengan salinitas yang akan di uji
2. Toples A untuk perlakuan salinitas 10 ppt sedangkan toples B untuk perlakuan gradual salinitas di mulai dari salinitas 5 ppt
3. Siapkan media air tawar yang selanjutnya akan di campur dengan garam sesuai dengan masing-masing perlakuan.
4. Masing-masing toples di isi air 10 liter
5. Masukkan garam ke dalam toples A maupan toples B sesuai dengan keadaan salinitas yang diinginkan. Setiap 1 liter air, membutuhkan 5 gr garam. Jadi untuk menciptakan selinitas 10 ppt di dalam 10 liter air, membutuhkan 100 gr garam. Begitu pula selanjutnya, untuk menciptakan salinitas 5 ppt dalam 10 liter air, membutuhkan 50 gr garam.
6. Selanjutnya masukkan ikan uji coba ke dalam toples A dan toples B, terlebih dahulu ikan uji coba di timbang bobot awalnya menggunakan timbangan digital
7. Lakukan pengamatan perubahan tingkah laku ikan. Upayakan salinitas dalan toples tetap stabil sesuai dengan perlakuan
8. Terus amati tingkah laku ikan uji coba. Untuk perlakuan gradual salinitas (toples B), setiap 10 menit salinitas dinaikkan 5 ppt sedangkan untuk salinitas 10 ppt (toples A), salinitas dibiarkan konstan.

9. Setelah waktu praktikum selesai, timbang kembali ikan uji coba untuk mengetahui bobot akhirnya.
10. Selanjutnya hitung berapa ekor ikan uji yang hidup dan berapa ekor pula ikan uji yang mati untuk mengetahui survival rate

3.4. Analisa Data














                                                                           

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Hasil Praktikum Suhu
Tabel. 1 Tingkah Laku Ikan Pada Gradual Suhu Dingin 29-170C
Waktu (menit)
Menit ke
Suhu (0C)
Tingkah Laku Ikan
Nila
Tingkah Laku Ikan Lele
10
1
29˚C


2


3


4

Kekurangan oksigen dan berdiri ke permukaan
5


6


7


8


9

Lemas
10


20
11
260C


12


13


14


15
Mulut terbuka cepat

16
Sirip dada bergerak cepat

17

Berenang berdiri ke permukaan
18

Mulut berwarna merah
19

Tubuh berwarna merah
20
Tidak aktif berenang
1 ekor pinsan
30
21
230C


22


23


24
Berenang di dasar
Berenang di dasar
25
Mulut terbuka cepat
Berenang tidak stabil dan lambat
26


27


28
Overculum tidak terbuka
Overculum tidak terbuka
29
Mengambil oksigen ke permukaan

30

Melompat ke permukaan







40



31





200C


32

Berenang di bawah aerasi
33


34
Mengambil oksigen ke permukaan
Melompat ke permukaan
35


36
Berenang tidak aktif

37
Warna tubuh semakin hitam

38

2 ekor berdiri ke permukaan dan 3 ekor berenang di dasar
39
4 ekor berenang di dasar dan 1 ekor menabrakan mulutnya ke toples
Berenang ke permukaan
40


50
41
170C
5 ekor berenang di dasar

42


43

1 ekor berenang di permukaan dengan mulut terbuka
44

Dada semakin memerah
45
1 ekor berenang di bawah aerasi

46


47


48


49
Warna semakin hitam
4 ekor berenang ke permukaan dengan badan melengkung
50
Berenang di bawah aerasi dengan tubuh menyamping



Tabel. 2 Tingkah Laku Ikan Pada Suhu 400C
Waktu (menit)
Menit ke
Suhu (0C)
Tingkah Laku Ikan Nila
Tingkah Laku Ikan Lele
10
1
40˚C








2

Pergerakan sangat agresif
3

Mulai terlihat lemas
4


5

Mulutnya megap-megap
6


7


8

Banyak mengeluarkn feses
9


10




20
11
Warna tubuh terlihat pucat

12

Gerakannya lambat
13


14
Berenang menabrak dinding

15

1 ekor pinsan
16


17


18

Mulai stress
19

Bibirnya merah
20


30
21
Melompat-lompat ke permukaan

22

Berenang berbalik badan
23
Belang ikan Nila terlihat jelas

24
Overculum terbuka dan menutup dengan cepat
Mulut terbuka lebar
25


26


27


28


29


30









40

31
Melompat ke permukaan

32
Kondisi ikan lemas

33


34
Melompat lebih cepat kepermukaan

35
Ikan terlihat lemas

36


37


38


39

Melompat ke permukaan dan menabrak dinding
40


50
41
400


42
Seluruh ikan Nila mulai menabrak dinding
Seluruh ikan Lele berwarna hitam pekat
43

5 ekor mengumpul di aerasi
44


45

5 ekor mati
46


47


48


49


50







Tabel. 3 Perubahan Bobot Ikan
Suhu
Jenis Ikan
Bobot Awal
Bobot Akhir
Δ Bobot
29-170C
Ikan  Nila (Oreochromis niloticus)
6,5 gr/ekor
Gradual ↓
4,38 gr/ekor
Gradual ↓
2,12 gr/ekor
400C
Perlakuan 400C
1,04 gr/ekor
Perlakuan 400C
5,46 gr/ekor
29-170C
Ikan Lele
 (Clarias sp)
12,2 gr/ekor
Gradual ↓
12,1 gr/ekor
Perlakuan 400C
0,1 gr/ekor
400C
Perlakuan 400C
10,57 gr/ekor
Perlakuan 400C
1,63 gr/ekor

Keterangan : Pada perlakuan 400C, menit ke-40 ikan Lele mati 5 ekor dengan bobot akhir                10,57 gr/ekor.


Tabel. 4 Jumlah Ikan yang Hidup
Perlakuan
∑ Ikan Nila yang Hidup
∑ Ikan Lele yang Hidup
Gradual ↓ 29-170C
5 ekor
5 ekor
Perlakuan 400C
5 ekor
-











4.1.1.2. Rumus Mencari Mortalitas

1.      Ikan Lele



·         Perlakuan 400C
        =  100%

·       Gradual 29-170C
        = 0%



2.      Ikan Nila


·         Perlakuan 400C
                   = 0%

4.1.1.3. Rumus Mencari Survival Rate

·        Gradual 29-170C
                   = 0%


1.      Ikan Lele

·         Perlakuan 400C
 = 0%
·        Gradual 29-170C
 = 100%


2.      Ikan Nila


·         Perlakuan 400C

 = 100%

·        Gradual 29-170C
 = 100%


4.1.2. Hasil Praktikum Salinitas
Tabel. 1 Tingkah Laku Ikan Pada Salinitas Gradual 5-25 ppt
Waktu (menit)
Menit ke
Salinitas
Tingkah Laku Ikan Nila
Tingkah Laku Ikan Lele
10
1
5 ppt
Diam di dasar
Operculum bergerak cepat
2
Warna tubuh semakin memucat
Megap-megap dan berwarna pucat
3
Sirip ekor berwarna merah
Bergerak aktif
4


5

Menabrak dinding
6
Sirip punggung bergarak cepat
1 ekor mengambang
7

1 ekor berenang berdiri
8


9
Semua ikan berenang di dasar

10

Lele mulai stress
20
11
10 ppt
Sirip ekor memerah
Berputar-putar dan bergerak cepat
12

1 kor pinsan
13

Bergerak cepat
14
Tubuh semakin memucat

15
Mata semakin memerah

16
Berenang dipermukaan

17

2 ekor stress
18


19


20


30
21
15 ppt

Melompat-lompat kepermukaan
22
Lingkaran hitam mata membesar
Melompat kepermukaan
23

Tubuh bebercak putih dan berenang kepermukaan
24

3 ekor pinsan
25

Melompat kepermukaan
26

Mata kelihatan pucat
27


28


29


30

Seluruh lele kelihatan pucat





40



31






20 ppt

Berenang kepermukaan
32


33


34
Bergerak semakin aktif

35


36


37

Bergerak aktif dan menabrak dinding
38
Menabrak dinding

39


40

Berenang di permukaan
50
41
25 ppt
Menguap-nguap kepermukaan

42


43

Mengambang kepermukaan
44


45


46
Masih berenang aktif
2 ekor berenang dipermukaan
47


48
1 ekor megap-megap ke permukaan
3 ekor berenang dipermukaan
49

4 ekor berenang dipermukaan
50
Banyak mengeluarkan veses dan tubuh kelihatan pucat
Tubuh semakin memerah


Tabel. 2 Tingkah Laku Ikan Pada Salinitas 10 ppt
Waktu (menit)
Menit ke
salinitas
Tingkah Laku Ikan Nila
Tingkah Laku Ikan Lele
10
1
10 ppt





Warna pucat berenang di dasar
Sering ke permukaan
2

Berenang menabrak dinding
3

1 ekor melompat
4

Mulut mulai memerah
5


6


7

1 ekor melompat ke luar
8
Mulut terbuka cepat
1 ekor berenang berdiri
9
Operculum terbuka lebar tetapi lambat
1 ekor mengejar 2 ekor ikan  Nila
10

Menabrakan mulutnya ke dinding
20
11
Sirip dada bergerak cepat
Berenang aktif
12

4 ekor kepermukaan
13
Mulut terbuka lebar dan menabrak ke dinding

14


15


16

3 ekor kepermukaan
17
Sirip ekor bergerak

18

5 ekor ke permukaan
19


20


30
21


22


23

4 ekor mengumpul ke permukaan
24


25


26


27
Mulut ikan terbuka lebar, sirip dada dan sirip ekor bergerak cepat
Lele sering melompat keluar
28


29
Berenang di dasar air

30









40

31
2 ekor berenang ke permukaan sambil membuka mulutnya mengambil oksigen
Terus berusaha melompat keluar
32


33


34


35

Berenang berdiri di dinding
36
1 ekor mengeluarkan veses
2 ekor berdiri kepermukaan
37

5 ekor berdiri kepermukaan
38
Mulut terbuka lebar dengan lambat
2 ekor seluruh badannya memerah
39


40


50
41
10 ppt


42

5 ekor berdiri di permukaan
43
Operculum terbuka cepat

44


45
Mata semakin memerah dan berenang aktif
5 ekor tidak aktif berenang hanya berdiri di permukaan
46
1 ekor berenang ke permukaan

47


48


49
2 ekor ke permukaan

50
Mulut terus terbuka
Seluruh ikan mengambang di permukaan





Tabel. 3 Perubahan Bobot Ikan
Salinitas
Jenis Ikan
Bobot Awal
Bobot Akhir
Δ Bobot
Konstan 10 ppt
Nila
230,56 gr
Rata-rata
46,11 gr
85,26 gr
Rata-rata
17,05 gr
145,3 gr
Lele
160,07 gr
Rata-rata
32,01 gr
26,13 gr
Rata-rata
5,23 gr
133,94 gr
Gradual

5-25 ppt
Nila
238,63 gr
Rata-rata
47,726 gr
87,77 gr
Rata-rata
17,154 gr
150,86 gr
Lele
171,17 gr
Rata-rata
84,23 gr
26,13 gr
Rata-rata
5,22 gr
28,68 gr


Tabel. 4 Jumlah Ikan yang Hidup
Perlakuan
∑ Ikan Nila yang Hidup
∑ Ikan Lele yang Hidup
Gradual 5-25 ppt
5 ekor
5 ekor
Perlakuan salinitas 10 ppt
5 ekor
5 ekor



4.1.1.2. Rumus Mencari Mortalitas

3.      Ikan Lele



·         Perlakuan 10 ppt
        =   0%

·       Gradual 5-25 ppt
        = 0%



4.      Ikan Nila


·         Perlakuan 10 ppt
                   = 0%

4.1.1.3. Rumus Mencari Survival Rate

·        Gradual 5-25 ppt
                   = 0%


3.      Ikan Lele

·         Perlakuan 10 ppt
 =100%
·        Gradual 5-25 ppt
 = 100%






4.      Ikan Nila


·         Perlakuan 10 ppt

 = 100%


·        Gradual 5-25 ppt
 = 100%






4.2.    PEMBAHASAN
4.2.1. Pengaruh Suhu Air terhadap ikan nila dan ikan lele
Salah satu faktor fisik lingkungan perairan adalah suhu,berdasarkan praktikum yang kami lakukan di di Departemen Perikanan Sebelah Barat PPPPTK Pertanian Cianjur,dengan menggunakan sample ikan nila dan ikan lele kami menemukan sesuatu ke samaan dan sedikit perbedaan dengan para ahli. Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut (Kanisius. 2005; 22-23):
a. Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b. Kecepatan reaksi kimia meningkat
c. Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
Hal tersebut hampir sama seperti hasil praktikum yang kami lakukan pada ikan nila dan ikan lele yang menjadi sample kami,bahwa ikan akan mengalami stres manakala terpapar pada suhu di luar kisaran yang dapat ditoleransi.Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang. Misalnya stres yang ditandai tubuh lemah,banyak mengeluarkan feses, kurus, dan tingkah laku abnormal, sedangkan suhu rendah mengakibatkan ikan menjadi rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun (Tunas. 2005;16-17). Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.
Dari masing-masing karakteristik yang dimiliki ikan, kami  berfikir  bahwa suhu juga berpengaruh dalam proses hidup ikan. Biasanya suhu berperan penting terhadap adaptasi fisiologi. Penyesuaian fungsi alat-alat tubuh terhadap keadaan lingkungan ini yang kemudian menyangkutkan operkulum sebagai salah satu organ tubuh yang ikut andil dalam adaptasi fisiologi. Operkulum ikan yang membuka dan menutup sangat bergantung terhadap suhu air sebagai media hidup ikan.seperti sampel ikan yang kami masukkan kedalam air yang bersuhu 40°c  overculum nya berkerja dengan sangat cepat dan sangat contras bila kita melihat pada sample gradual  29-17°c  ikan dan pergerakan overculumnya sangat lambat. hal tersebut sesuai seperti yang dikatakan oleh para ahli; Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi (Kanisius. 1992; 23). Gerakan operkulum sebenarnya merupakan indikator laju respirasi Ikan. Berarti, suhu merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan. Telah diketahui bahwa suhu tinggi akan menyebabkan berkurangnya gas oksigen terlarut, akibatnya ikan akan mempercepat gerakan operkulum untuk mendapatkan gas oksigen dengan cepat sesuai kebutuhan respirasinya. Hal tersebutlah yang menyebabkan sample ikan lele pada suhu 40°c kami  mati.
Menurut Fujaya (1999;106) rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan atau hewan air harus memompa sejumlah besar air ke permukaan alat respirasinya untuk mengambil Oksigen. Fujaya menambahkan bahwa tidak hanya volume besar yang dibutuhkan tetapi juga energi pemompaan juga semakin besar. Menurut Nolan dan Collin (1996;4) suhu air dalam akuarium dalam percobaaan menggunakan bak plastik  yang tinggi tidak hanya mempengaruhi kelarutan oksigen tetapi juga mepengaruhi laju metabolisme respirasi ikan.



4.2.2.   Pengaruh Salinitas Air Terhadap Ikan Nila Dan Ikan Lele
Berdasarkan hasil praktikum dan pengamatan yang telah kami lakukan pada kisaran salinitas,5-25ppt kami juga menemukan beberapa kesamaan seprti yang dikatakan oleh para ahli bahwa; setiap organisme walaupun menempati habitat atau salinitas yang berbeda pada waktu yang singkat masih mampu melakukan adaptasi dengan lingkungannya, Romimohtarto dan Juwana, (2006).hal itu lah yang terjadi pada ikan nila dan ikan lele yang menjadi sample kami. meskipun kami yakin ikan lele pasti akan mati jika salinitasnya ditambah lagi tetapi tidak pada ikan nila meski pada salinitas yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi, (2002) bahwa organisme yang bersifat eurihaline mampu melakukan adaptasi dengan salinitas lingkungan yang tinggi.
 Salinitas yang digunakan pada saat praktikum adalah konstan 10 ppt dan gradual 5-25ppt. Tingkah laku ikan lele dan ikan nila selama pengamatan dari menit pertama masih aktif bergerak sampai tidak bergerak (diam). Tingkah laku lele yang sering berada pada sumber aerasi karena pada salinitas yang tinggi kandungan oksigen terlarut pada perairaran akan rendah. Berbeda dengan ikan nila yang masih saja aktif bergerak dapat bertahan dengan salinitas 5-25 ppt. Ikan yang digunakan pada masa percobaan juga semua masih hidup total survival rate nya 100% sampai akhir percobaan selama 50 menit.
Kandungan kadar garam dalam suatu media berhubungan erat dengan sistem (mekanisme) osmoregulasi pada organism air tawar. Affandi (2001) berpendapat bahwa organism akuatik mempunnyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal.
Dalam pengaturan tekanan osmotik pada setiap ikan, termasuk ikan lele melibatkan peran beberapa organ. Hal ini sesuai dengan pendapat Affandi (2001) bahwa organ osmoregulasi pada ikan meliputi ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan. Pada pengamatan tingkah laku ikan lele, cenderung terlihat pasif bergerak.
Berdasarkan pendapat Affandi (2001) bahwa insang merupakan organ penting yang mampu dilewati air mapun mineral, pemeabilitas tinsang yang tinggi terhadap ion-ion dapat menyebabkan insang pasif bergerak. Untuk organ dalam yang berhubungan dengan organ osmoregulasi tidak dapat diketahui secara pasti pengaruhnya terhadap kadar salinitas karena hanya dilakukan pengamtan tingkah laku ikan saja. Pengaruh organ-organ tersebut hanya dapat diketahui berdasarkan literatur yang ada.
         Selama perlakuan pertama berlangsung, penggunaan aerasi pada saat pengamatan, sangat dibutuhkan untuk menyuplai kandungan oksigen pada saat salinitas tinggi, khususnya bagi ikan lele. Karena pada salinitas tinggi telah diketahui bahwa kandungan oksigen rendah, maka ikan lele sering berkumpul didaerah aerasi. Bukaan mulut yang cepat, gerakan tapis insang yang cepat pada perlakuan yang menggunakan kadar salinitas 10 dan 5-25 ppt dilakukan oleh ikan lele karena untuk mendapatkan oksigen. Pada salinitas yang tinggi, ikan dalam adaptasinya akan kehilangan air melalui difusi keluar badannya. Walaupun demikian, salinitas air sebaiknya tidak mengalami fluktuasi (naik-turun) yang besar. Dalam budidaya ikan, nilai salinitas harus stabil, tidak mengalami perubahan ekstrem (drastis) mencapai angka 5.


BAB V
PENUTUP

5.1.   KESIMPULAN
5.1.1.   Suhu
Semakin tinggi suhu air maka jumlah operkulum semakin meningkat begitu pula sebaliknya. ikan akan mengalami stres manakala terpapar pada suhu di luar kisaran yang dapat ditoleransi. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati. suhu merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan. Telah diketahui bahwa suhu tinggi akan menyebabkan berkurangnya gas oksigen terlarut, akibatnya ikan akan mempercepat gerakan operkulum untuk mendapatkan gas oksigen dengan cepat sesuai kebutuhan respirasinya. Hal tersebutlah yang menyebabkan sample ikan lele pada suhu 40°c kami  mati.
5.1.2.   Salinitas
setiap organisme walaupun menempati habitat atau salinitas yang berbeda pada waktu yang singkat masih mampu melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Tingkah laku lele yang sering berada pada sumber aerasi karena pada salinitas yang tinggi kandungan oksigen terlarut pada perairaran akan rendah. Berbeda dengan ikan nila yang masih saja aktif bergerak dapat bertahan dengan salinitas 5-25 ppt.  Perbedaan salinitas sangat mempengaruhi laju proses osmoregulasi pada ikan.  Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang dilakukan oleh organisme air untuk mengatur kehidupannya sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal.
5.2.   SARAN
Adapun saran yang bisa kami sampaikan pada kegiatan praktikum kali ini adalah sebaiknya di sediakan buku penunjang di atas meja agar ketika melakukan kegiatan praktikum kita bisa membandingkan anatara praktikum yang kami lakukan dengan hasil praktikum dari buku penunjang. Hal ini dilakukan agar kita dapat mengetahui apakah kegiatan praktikum yang kami lakukan sesuai atau tidak dalam buku tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Ø  Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta : Jakarta.
Ø  Kusrini, E. 2007. Adaptasi Fisiologis Terhadap Salinitas. Rineka Cipta :    Jakarta
Ø  Romimohtarto dan Juwana, 2006. Biologi Laut. Erlangga : Jakarta

Ø  http://teknikbudidayaikan.blogspot.com/2012/01/laporan-praktik-fisiologi-hewan-air.html
Ø  http://wwwrizalbireuen.blogspot.com/2010/03/pengaruh-salinitas-terhadap-pertumbuhan.html. ( Diunduh pada hari kamis,  14 Desember 2012, pukul 19.30 ).


o   ( Diunduh pada hari jum’at, 14 Desember 2012, pukul 19.30 ).


Ø  http://aryansfirdaus.wordpress.com/2010/10/25/pengaruh-suhu-dan-salinitas-terhadap-keberadaan-ikan/. ( Diunduh pada hari jum’at,  14 Desember 2012, pukul 19.30 ).


Ø  http://wayanfishery.blogspot.com/2011/06/laporan-manajemen-kualitas-air.html. (Diunduh pada hari jum’at,  14 Desember 2012, pukul 19.30 ).


Ø  http://www.scribd.com/doc/42557430/ADAPTASI-IKAN. ( Diunduh pada hari jum’at,  14 Desember 2012, pukul 19.30 ).


Ø  http://www.scribd.com/doc/49940458/Toleransi-Salinitas. ( Diunduh pada hari jum’at,  14 Desember 2012, pukul 19.30 ).



 

                 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar