Jumat, 08 Mei 2015

Laporan praktikum menghitung Alkalinitas di perairan budidaya ikan



1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagian besar dari permukaan bumi kita tertutup oleh air.Air yang ada dipermukaan bumi kita ini memiliki kegunaan masing-masing.Baik itu untukkonsumsi maupun untuk budidaya, air mesti memenuhi syarat-syarat tertentu yang dinamakan tingkat kualitas air.Kualitas air merupakan aspek yang sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga agar dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kita maupun oleh generasi kita kedepan.
Dalam melakukan pembudidayaan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.Tetapi terlebih dahulu harus mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pemeliharan atau pembudidayaan.Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu air itu sendiri karena air merupakan media hidup organisme akuatik. Kualitas air ini sangat didahulukan sebelum melakukan pembudidayaan.
Berdasarkan kenyataan tersebut serta mengingat bahwa saat ini kulitas air merupakan salah satu masalah yang sangat krusial baik itu dikalangan masyarakat pada umumnya maupun masyarakat perikanan pada khususnya, maka penting kiranya bagi kita untuk mempelajari tentang kualitas itu sendiri dan menganalisa air tersebut agar pengaruh yang ditimbulkan akibat penurunan tingkat kualitas itu sendiri dapat diminimalisir. Salah satu jenis analisa air adalah analisa alkalinitas air

1.1  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum Laboratorium mengenai alkalinitas air yaitu untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya alkalinitas itu serta bagaimana cara perhitungannya.
Kegunaan praktikum Laboratorium mengenai alakalinitas air yaitu untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa mengenai alkalinitas dan mengerti  cara perhitungan alkalinitas



II  TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Sifat fisika  air
2.1.1  Kecerahan
Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan. Begitu juga sebaliknya
2.1.2 Suhu
Suhu air adalah parameter fisika yang dipengaruhi oleh kecerahabn dan kedalaman. Air yang dangkal dan daya tembus cahaya matahari yang tinggi dapat meningkatkan suhu perairan
2.2 Sifat kimia air
2.2.1 Alkalinitas
2.2.1.1 Sumber alkalinitas
Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion carbonat dan bicarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa juga diartikan sebagaikapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH. Perairan.mengandungalkalinitas ≥20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahanasam/basa sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH,alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilaikesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi. (http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As)
Air dengan alkalinitas tinggi jarang dijumpai dalam akuakultur, penggunaan kolam semen baru memang akan menyebabkan pH meningkat, sehingga untuk pengoprasian kolam semen diperlukan tindakan pengisian air dan pengurasan berulang-ulang sebelum kolam semen siap digunakan untuk budidaya. Lanjut dikatakan bahwa pemberian kapur atau atau aliran air yang tidak baik setelah pemberian kapur dapat berakibat alkalinitas air tinggi dan dapat bersifat fatal terhadap ikan (http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As)
Alkali ialah zat yang melepaskan ion hidroksil dalam air dan mempunyai pH lebih besar dari 7, antara lain kapur (kalsium hidroksil) yang ditambahkan pada tanah untuk menetralkan sifat asam yang berlebihan (Effendi,2003)
2.2.1.2  Manfaat alkalinitas
Alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH, Pertahanan pH air terhadap perubahan dilakukan melalui alkalinitas dengan proses sbb:
CO2 + H2O <==> H2CO3<==> H+ + HCO3-<==> CO3-- + 2H+
CO3 (karbonat) dalam mekanisme diatas melambangkan alkalinitas air. Sedangkan H(+) merupakan sumber kemasaman (http://www.o-fish.com/parameter_air.htm)
Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3). Air dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat alkalinitas sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Kapasitas pem-buffer-an alam dilengkapi dengan mekanisme pertahanan sedemikian rupa sehingga dapat bertahan terhadap berbagai perubahan, begitu juga dengan pH air. Mekanisme pertahanan pH terhadap berbagai perubahan dikenal dengan istilah Kapasitas pem-buffer-an pH (http://www.o-fish.com/parameter_air.htm)
Perairan yang mengandung mineral karbonat, bikarbonat, borat, dan silikat akan mempunyai pH diatas netral dan dapat mencegah terjadinya penurunan pH secara drastic. Pada perairan tertutup, penambahan karbonat dari sel-sel kerang atau dolomite dapat memperbaiki alkalinitas dan sistem buffer perairan itu. Penambahan sodium bikarbdonat secara periodik juga akan menghasilkan hal yang sama (http://www.scri/doc/72981207/Alkali-Nit-As). 
Alkalinitas diperlukan untuk mencegah terjadinya fluktuasi pHyang besar, selain itu juga merupakan sumber CO2untuk proses fotosintesisfitoplankton.Nilai alkalinitas akan menurun jika aktifitas fotosintesis naik,sedangkan ketersediaan CO2
yang dibutuhkan untuk fotosintesis tidak memadai.Sumber alkalinitas air tambak berasal dari proses difusi C2di udara ke dalam air, proses dekomposisi atau perombakan bahan organik oleh bakteri yangmenghasilkan CO2, juga secara kimiawi dapat dilakukan dengan pengapuransecaramerata di seluruh dasar tambak atau permukaan air .Jenis kapur yang biasadigunakan adalah CaCO3(kalsium karbonat), CaMg(CO3) 2(dolomit), CaO(kalsium oksida), atau Ca(OH)2 (kalsium hidroksida). Pada budidaya perairanalkalinitas dinyatakan dalam mg CaCO3/liter air (ppm). Kisaran optimumalkalinitas bagi pertumbuhan udang adalah 75-200 mg CaCO3/liter http://www.scribd.com/doc/24943983/Laporan-Praktikum-Laboraturium-Lingkungan-2-Asidi-Alkalinitas
2.2.1.3 Kadar alkalinitas
         Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion karbonat dan bikarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH. Perairan.mengandung alkalinitas ≥20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam/basa sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah melebihi 500 mg/iter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi
( http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As)
Alkalinitas terdiri dari ion-ion bikarbonat (HCO3-),karbonat
(CO3-) dan hidroksida (OH-) yang merupakan buffer terhadap pengaruh pengasaman
Alkalinitas atau yang dikenal dengan total alkalinitas adalah konsentrasi total unsur basa-basa yang terkandung dalam air dan biasannya dinyatakan dalam mg/l atau setara dengan CaCO3. Ketersediaan ion basa bikarbonat (HCO3) dan karbonat (CO32-) merupakan parameter total alkalinitas dalam air tambak. Unsur-unsur alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) pH. Dalam kondisi basa ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion hidrogen yang bersifat asam, sehingga keadaan pH menjadi netral.sebaliknya bila keadaan terlalu asam, ion karbonat akan mengalami hidrolisa menjadi ion bikarbonat dan melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan kembali netral. Digambarkan dalam reaksi berikut :
HCO3-                        H+  + CO3P2
CO32-  +  H2O                      HCO32- + OH-
Lanjut dikatakan bahwa untuk tumbuh optimal, pklankton menghendaki total alkalinitas sekitar 80-120 ppm. Tambak yang diberi pengapuran alkalinitasnya mencapai 150-300 ppm. konsentrasi total alkalinitas sangat erat hubungannya dengan konsentrasi total kesadahan air. Di lahan, umumnya total alkalinitas mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi total kesadahan. (Effendi,2003)
Kapasitas air menerima protein disebut alkalinitas. Air  yang alkali atau bersifat basa sering mempunyai pH tinggi dan umumnya mengandung padatan terlarut yang tinggi. Alkalinitas merupakan faktor kapasitas untuk menetralkan asam. Oleh karena kadang-kasang penambahan alkalinitas lebih banyak dibutuhkan untuk mencegah supaya air itu tidak menjadi asam (Effendi,2003)
2.2.1.4       Kekurangan Dan Kelebihan Alkalinitas
Apabila jumlah kadar karbondioksida terlalu tinggi justru membahayakan biota perairan.  CO2 yang dapat di toleransi oleh organisme perairan adalah 10 ppm.  Sedangkan kandungan CO2 yang melebihi 15 ppm akan sangat berbahaya.  Kelebihan Karbondioksida dalam perairan dapat mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam perairan sehingga organism budidaya akan mengalami kematian (http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As).
Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir kemasamaan dalam air.Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3).Air dengan kandungankalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat alkalinitas sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas diatas 20 ppm (http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As)
Penanggulangan apabila alkalinitas rendah perlu diadakan pengapuran dengan menggunakan Ca(OH)2, pengapuran tersebut dapat menaikkan alkalinitas sekaligus kenaikan pH. Sedangkan untuk alkalinitasnya tinggi diberikan asam mineral yang akan menetralisir alklinitas air,
(http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As)
Asam mieral yang dimaksud yaitu sejenis asam yang diturunkan dari reaksi kimia mineral-mineral anorganik (berlawanan dengan asam organik). Asam ini memiliki atom hidrogen yang berikatan kovalen dengan anion, seperti misalnya sulfat atau klorida (http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_mineral)
2.2.1.5 Hubungan alkalinitas dengan parameter lain
Tinggi atau rendahnya alkalinitas dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti pH, atau kesadahan. Di mana semakin tinggi alkalinitas, maka kedua parameter tersebut akan mengikuti. konsentrasi total alkalinitas sangat erat hubungannya dengan konsentrasi total kesadahan air. Umumnya total alkalinitas mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi total kesadahan. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Unsur-unsur alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) pH (Effendi,2003).
             Alkalinitas relatif sama jumlahnya dengan kesadahan dalam suatu perairan. Alkalinitas juga berpengaruh terhadap pH dalam suatu perairan. Dalam kondisi basa ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion hidrogen yang bersifat asam sehingga keadaan pH menjadi netral.sebaliknya bila keadaan terlalu asam, ion karbonat akan mengalami hidrolis menjadi ion bikarbonat dan melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan kembali netral. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi (http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As)
2.3  Sifat biologi
2.3.1 Flora
Tumbuhan air atau hidrofolik ialah golongan yang mencakup semua tumbuhan yang hidup di air Bersauh (berakar dalam lumpurr  dan dasar air) atau tidak. Disamping tipe mikroskopik yang mengapung bebas dan berenang-renang yang merupakan dasar utama pembentukan kategori tersendiri yang di sebut plankton.Golongan hidrofolok cenderung melintas memotong golongan lainnya dan dengan itu sering ditiadakan dari spectrum biologi (Polunin, 1994).
Flora di suatu wilayah yang biasanya dijelaskan dalam istilah biologi untuk menyertakan genus dan spesies tanaman hidup, pilihan mereka tumbuh berkembang biak atau kebiasaan, dan sambungan ke satu sama lain di lingkungan juga.(http://ferrytaryono.wordpress.com/2009/08/06/pengertian-flora-fauna/).


2.3.1 Fauna
Pada perairan danau, hewan yang paling umum mendominasi danau adalah hewan dari golongan hewan bertulang belakang (hewan vertebrata) yakni ikan.Ikan-ikan tersebut berada pada setiap lapisan perairan baik pada zona litoral dan zona limnetik.Hal ini di sebabkan oleh kemampuan gerak ikan. Biasanya ikan-ikan bergerak bebas antar zona litoral dan limnetik, akan tetapi bagian besar ikan-ikan meenghabiskan waktunya di derah litoral dan kebanyakan daei mereka berkembang biak di daerah tersebut (Odum, 1996).
2.3.1 Produktifitas primer
Produktivitas primer dari suatu ekosistem didefinisikan sebagai jumlah energicahaya yang diserap dan kemudian disimpan oleh organisme-organisme produsermelalui kegiatan fotosintesis dan kemosintesis dalam suatu periode waktu tertentu( Widianingsih, 2002).
Cahaya disimpan dalam bentuk zat-zat organik yang dapatdigunakan sebagai bahan makanan oleh organisme heterotrofik (Setyapermana, 1979)


III  METODE PRAKTEK
3.1 Waktu dan Tempat
Praktek mata kuliah Limnologi tentang Alkalinitas dilaksanakan pada hari jum,at, tanggal 11 November 2011, pukul 01.30 WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.
3.2 Alat dan Bahan
    Alat-alat  yang digunakan dalam praktek yaitu :
NO.
ALAT
FUNGSI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Labu Erlenmeyer 50 – 125 ml
Gelas ukur 50 ml
Pipet tetes
Karet penghisap
Botol aquades
Termometer
pH meter
Alat tulis
Menyimpan larutan yang dititrasi
Mengukur skala larutan
Mengambil sampel larutan
Untuk Mengisap Larutan
Untuk membersihkan alat-alat praktikum
Untuk mengukur suhu
Mengukur pH dalam air
Untuk menulis hasil praktikum

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktek yaitu :
- Indikator Larutan PP,
- Indikator Larutan MO (Metil Orange),
- Indikator Larutan H2SO4.
_ Air sampel



3.3 Prosedur Kerja
   3.3.1 Prosedur kerja alkalinitas
 Prosedur kerja tentang pengukuran alkalinitas adalah sebagai berikut :
1.    Mengambil air sampel 100 ml dan memberikan 5 tetes indikator PP. Jika tidak berwarna, maka tidak ada PP alkalinitas. Menambahkan indikato MO (Metil Orange). Langkah berikut, menitrasi dengan larutan H2SO4 hingga­dari warna kuning sampai berubah menjadi warna orange. Kemudian menghitung larutan H2SO4 yang digunakan (M).
2.    Apabila berwarna, maka langsung menitrasi dengan larutan H2SO4 sampai berwarna kuning. Lalu menghitung larutan H2SO4 yang digunakan (P).
3.    Memasukkan indikator MO (metil Orange), lalu menitrasi dengan larutan H2SO4 sampai warna orange. Menghitung larutan H2SO4 yang digunakan (B).
3.3.2  Prosedur kerja suhu
1. Memasukan termometer kedalam akuarium.
2. Mengaktifkan termometer lalu memasukan kedalam akuarium.
3. Mencatat skala dalam termometer.
          3.3.3  Prosdur kerja pH
1. Mengaktifkan termometer.
2. Memasukan termometer kedalam akuarium praktikum.
3. Melihat perubahan skala thermometer yang dimasukan kedalam akuarium.
4. Mencatat hasil yang didaptkan dari termometer tersebet, dan kemudian.
5. Menghitung termomete

3.4 Analisa Data
      Perhitungan :
 PP alkalinity =  mg/l CaCO3
PP alkalinity  =  mg/l CaCO3
Keterangan             :      P          =     volume peniter (H2SO4 ml)
                                      B          =     volume peniter (H2SO4 ml)
                                      N         =     normalitas peniter (H2SO4 0,02 ml)
                                      V         =     volume air sampel


IV  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan perhitungan alkalinitas pada akarium A dan akuarium B maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Grafik 1. Kadar PP Alkalinitas.
Grafik  2. Total Alkalinitas.
4.2  Pembahasan
4.2.1 Perbandingan Alkalinitas Hasil Pengamatan dengan Kadar Optimal
Pada percobaan alkalinitas yang di lakukan di lakukanpada akuarim A dan akuarium B ternyata terjadi perbedaan karena  jumlah total alkalinitas yang di dapat pada akuarium A yaitu 29,16 sendangkan total alkalinitas di akurium B yaitu 74. Alkalinitas optimal pda nilai 90-150 ppm.Alkalinitas rendah diatasi dengan pengapuran dosis 5 ppm. Dan jenis kapur yang digunakan disesuaikan kondisi pH air sehingga pengaruh pengapuran tidak membuat Ph air tinggi, serta disesuaikan dengan keperluan dan fungsinya (http://www.scribd.com/doc/24943983/Laporan-Praktikum-Laboraturium-Lingkungan-2-Asidi-Alkalinitas)        
4.2.2  Perbandingan Alkalinitas Akuarium A dan B
Perbedaan kadar total alkalinitas pada kedua akuarium tersebut yaitu terletak pada sumber air dan kapur yang terbawa oleh air pada akuarium. Pada akuarium A lama kosong tanpa ada organisme hidup di dalamnya, 2 hari berikut setelah pengisian air pada akuarium  baru di masukkan organisme. Ukuran organisme akuarium A lebih besar di bandingkan organisme akuarium B Tinggi rendahnya kandungan alkalinitas dalam perairan dapat menyebabkan pertumbuhan organisme akan terhambat. Perbandingan alkalinitas akuarium A dan akuarium B yaitu 1 : 2 dimana kadar total alkalinitas akuarium B lebih tinggi dari kadar total alkalinitas akuarium B yaitu 74 sedangkan akuarium B hanya 29,16. pada akurium B kadar total alkalinitas hampir optimal, sedangkan pada akuarium A kadar total alkalinitas kurang optimal. Pada akuarium A organisme akuatik masih bisa hidup dan bertahan namun, pertumbuhannya terhambat. Akuarium yang baik untuk proses pertumbuhan organisme akuatik yaitu akuarium B dibandingkan akuarium A, dimana kadar total alkalinitasnya hampir optimal yaitu 74. Tinggi atau rendahnya alkalinitas dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti pH, atau kesadahan. Di mana semakin tinggi alkalinitas, maka kedua parameter tersebut akan mengikuti. konsentrasi total alkalinitas sangat erat hubungannya dengan konsentrasi total kesadahan air. Umumnya total alkalinitas mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi total kesadahan. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Unsur-unsur alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) pH ((Effendi,2003)
4.2.3  Hubungan Alkalinitas dengan Parameter lain
Jumlah pengukuran suhu pada  akuarium A dan akuarium B yaitu 26 derajat dan Ph  berkisar  8,1- 8,8. Hubungan alkalinitas dengan pH yaitu apabila alkalinitas tinggi maka pH juga tinggi, sesuai dengan hasil pengamatan yang di lakukan di laboratorium yaitu pada akuarium A pH lebih rendah dibandingkan akuarium B dan alkalinitas juga rendah,sebaliknya pada akuarium B pH lebih tinggi dan alkalinitas juga tinggi.Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir kemasamaan dalam air.Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH (http://www.scribd.com/doc/24943983/Laporan-Praktikum-Laboraturium-Lingkungan-2-Asidi-Alkalinitas)


V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
 Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai alkalinitas maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1    Air pada akuarium A ikanya lebih besar dari akuarim B sehingga dalam  praktikum mendapatkan hasil yang berbeda karena disebabkan juga oleh suhu dan pH.
2. Di dalam akuarium A airnya masih bagus dan belum terkontaminasi dengan bakteri-bakteri.
3. Ketersediaan ion basa bikarbonat (HCO3) dan karbonat (CO32-) merupakan parameter total alkalinitas. Unsur-unsur alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) pH. Dimana reaksi keduanya dapat menetralkan pH.


5.2 Saran
 Kedisiplinan dan kerjasama dalam pelaksanaan praktikum perlu ditingkatkan, sehingga pelaksanaan praktikum lebih baik dan sesuai dengan yang diharapkan.



DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, S., 1986.Pemeliharaan Ikan di Dalam Keramba. PT. Gramedia; Jakarta
Barus T. A. 2002.  Pengantar Limnologi.  USU-Press.  Medan
Boyd, C.E., 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture.Birmingham publishing Co. Birmingham, Albama.
Efendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya danLingkungan Perairan. Kanisius; Yogyakarta.
Fujaya, Y., 2004. Fisiologi ikan.Rineka Cipta; Jakarta.
Hendra, 1988.  MembuatdanMembudidayakanIkandalamKantongJaring.  CV.Simplex, Jakarta.
http://www.scribd.com/doc/72981207/Alkali-Nit-As

Irawan, A., 2004. Menanggulangi Hama dan Penyakit Ikan. Aneka; Solo.
Irianto, A., 2004. Patologi Ikan Teleostei.Gajah Mada University Press; Yogyakarta.
Jangkaru. Z, 1999. Memelihara Ikan di Kolam Tadah Hujan. Penebar Swadaya; Jakarta.
Kordi, 2004. Pakan Udang Windu (Paneus Monodon). Kanisius; Yogyakarta.
---------, 2004.  PenanggulangHamadanPenyakitIkan.  Bina Adiaksara, Jakarta.
Lesmana, D.S., 2001. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar.Penebar Swadaya; Jakarta.
Sastrawijaya, 2000.  Pencemaran Lingkungan.  Rineka Cipta, Jakarta.

Setiapermana, D. 1979.Produktivitas Primer dan Beberapa Cara Pengukurannya
. Oseana.Lembaga LON LIPI, Jakarta
Sitanggang, M & Sarwono, B., 2001.Budidaya Gurami. Penebar Swadaya; Jakarta.
Summawidjaya, K., 1978. Dasar-Dasar Limatologi.IPB; Bogor.
Susanto, 1987. Budidaya Ikan di Pekarangan.Penebar Swadaya; Jakarta.
Susanto, 1990. Membuat Kolam Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soeyasa, 2001. Ekologi perairan departemen kelautan dan perikanan dirjen pendidikan menengah atas, jakarta.
Widianingsih, N. 2002.
Produktivitas Primer Fitoplankton Tambak Udang (Penalis monodon)di Desa Ayah Kabupaten Kebumen
. Skripsi Fakultas Biologi, Purwokert
Zonneveld, N., Husiman, E.A., dan Boon, J.H., 1991.Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar