Senin, 11 Mei 2015

Kasus Yang Terjadi Karena Keracunan Produk Perikanan (Minamata Disease)



Nama        : Amril Mukminin
NIM          : D41121606
Mata Kuliah : Penanganan Pasca Panen

Kasus Yang Terjadi Karena Keracunan Produk Perikanan

Minamata Disease

Latar Belakang
Minamata, apa itu? Mungkin banyak dari pembaca sekalian merasa asing dengan kata tersebut. Banyak yang belum mengetahui apa itu minamata. Dan mungkin juga banyak yang tidak menyangka bahwa nimamata adalah nama sebuah penyakit. Sebuah penyakit yang sempat terkenal di Jepang.
Oleh sebab itu penulis memilih minamata sebagai bahasan dalam makalah ini. Dengan harapan banyak orang akan mulai mengenal penyakit minamata.
Selain itu, penyakit minamata juga mempunyai sejarah yang menarik. Dimulai dari sebuah kota yang bernama minamata, hingga suatu ketika muncul wabah penyakit si kota itu dan diberi nama penyakit minamata.
Penulis membuat makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata pelajaran biologi dari sekolah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan.


A.    Penyakit Minamata
Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa.  Penyakit Minamata bukanlah penyakit yang menular atau menurun secara genetis.
Penyakit ini mendapat namanya dari kota Minamata, Prefektur Kumamoto di Jepang, yang merupakan daerah di mana penyakit ini mewabah mulai tahun 1958. Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di kota Minamata Jepang. Penyakit tersebut terjadi akibat banyak mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang tercemar metil merkuri.  Ratusan orang mati akitbat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan syaraf.

B.     Penyebab Penyakit Minamata
Penyakit minamata  mirip orang yang keracunan logam berat. Kemudian dari kebudayaan setempat diketahui bahwa orang Jepang mempunyai kebiasaan mengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak. Dari hipotesis dan kebiasaan pola makan tesebut kemudian dilakukan eksperimen untuk mengetahui apakah ikan-ikan di Teluk Minamata banyak mengandung logam berat (merkuri), dan ternyata benar.  Kemudian di susun teori bahwa penyakit tersebut diakibatkan oleh keracunan logam merkuri yang terkandung pada ikan. Ikan tesebut mengandung merkuri akibat adanya orang atau pabrik yang membuang merkuri ke laut.
Penyakit ini ditemukan pertama kali di kota Kumamoto pada tahun 1956 dan pada tahun 1968 pemerintah Jepang menyatakan bahwa penyakit ini disebabkan pencemaran pabrik batu baterai Chisso Co., Ltd. oleh pembuangan limbah metil merkuri.
Metil merkuri adalah merkuri organik yang berbentuk serbuk putih dan berbau seperti belerang pada sumber air panas. Senyawa ini mudah terserap oleh organ pencernaan dan dibawa oleh darah ke dalam otak, liver dan ginjal bahkan ke dalam janin. Metil merkuri yang masuk ke tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat. Merkuri anorganik dapat berubah menjadi metil merkuri karena ditransformasi oleh bakteri di perairan, misalnya Desulfovibrio desulfuricans LS. Merkuri organik akan terserap oleh ikan dan kerang melalui insang atau saluran pencernaan. Metil merkuri yang terbentuk di perairan secara bertahap diakumulasi dalam tubuh ikan dan kerang dan konsentrasinya berlipat ganda dalam rantai makanan biota perairan. Contohnya merkuri dalam plankton diserap oleh ikan kecil dan jumlahnya berlipat sesuai dengan jumlah plankton yang dimakan ikan, kemudian ikan kecil dimakan oleh ikan besar dan merkurinya berlipat ganda. Beberapa polutan seperti metil merkuri dan dioksin yang dilepaskan ke lingkungan menunjukkan konsentrasi yang tinggi pada organisme yang menempati puncak rantai makanan.
Methyl mercuri dalam ikan tidak dapat direduksi dengan memasaknya karena metil merkuri dalam ikan terikat erat pada protein dan pemanasan pada temperatur yang biasa digunakan saat memasak kecuali jika ikan dibakar pada suhu diatas 400 dan ikan akan menjadi arang. Oleh sebab itulah terjadi penyakit Minamata.

C.    Gejala Penyakit Minamata
Gejala awal antara lain kaki dan tangan menjadi gemetar dan lemah, kelelahan, telinga berdengung, kemampuan penglihatan melemah, kehilangan pendengaran, bicara cadel dan gerakan menjadi tidak terkendali. Beberapa penderita berat penyakit Minamata menjadi gila, tidak sadarkan diri dan meninggal setelah sebulan menderita penyakit ini.
Penderita kronis penyakit ini mengalami gejala seperti sakit kepala, sering kelelahan, kehilangan indera perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Meskipun gejala ini tidak terlihat jelas tetapi sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Yang lebih parah adalah penderita congenital yaitu bayi yang lahir cacat karena menyerap metil merkuri dalam rahim ibunya yang banyak mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi metil merkuri. Ibu yang mengandung tidak terserang penyakit Minamata karena metil merkuri yang masuk ke tubuh ibu akan terakumulasi dalam plasenta dan diserap oleh janin dalam kandungannya. Disamping dampak kerusakan fisik, penderita Minamata juga mengalami diskriminasi sosial dari masyarakat seperti dikucilkan, dilarang pergi tempat umum dan sukar mendapatkan pasangan hidup.

D.    Cara Pengobatan Penyakit Minamata
Tidak ada pengobatan tuntas bagi korban Minamata. Korban pergi ke rumah sakit untuk mengurangi gejala dan rehabilitasi. Ketika korban menjadi semakin tua, jumlah orang yang dirawat semakin banyak dan kebutuhan bantuan perawatan di rumah semakin bertambah. Dalam masyarakat yang cepat menua ini, penderita berharap untuk dapat hidup di masyarakat tanpa khawatir dikucilkan masyarakat. Penderita yang dapat menggerakkan badannya diberi kesempatan untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya. Meskipun berkebun dan mencari ikan adalah pekerjaan yang cukup berat, penderita dapat melakukannya setelah menjalani rehabilitasi. Beberapa penderita bekerja di perusahaan dan mereka telah beradaptasi dengan kondisinya. Walaupun begitu penilaian dan salah paham pada penderita Minamata tetap terjadi sehingga penderita tidak memberitahu orang lain bahwa ia menderita Minamata bahkan kepada keluarganya sendiri. Tetapi penderita lainnya malah dengan terbuka menceritakan perasaannya dan penderitaan yang dialami sebagai korban Minamata dengan harapan tragedi Minamata tidak akan terjadi lagi.

E.     Sejarah Penyakit Minamata
Sesuai dengan namanya, penyakit Minamata berasal dari nama teluk Minamata di Jepang. Kasus pertama penyakit Minamata ditemukan tanggal 21 April 1956.
Ketika itu seorang anak perempuan berusia lima tahun, dibawa ke klinik pediatri dr.Kaneki Noda, dengan keluhan mengalami sejumlah gejala kerusakan otak dan jaringan saraf tulang belakang. Seminggu kemudian, adiknya yang berusia tiga tahun, juga dibawa ke klinik karena menunjukan gejala yang sama. Karena itulah, dr.Noda pada tanggal 1 Mei 1956 merujuk kedua pasien kecil itu ke pusat kesehatan Minamata.
Para dokter di pusat kesehatan Minamata menduga, kasusnya tidak hanya menimpa dua anak tsb. Sebagai konsekuensinya dilakukan penyidikan epidemiolog di kawasan Teluk Minamata. Hasilnya amat mengejutkan, karena jumlah penderitanya amat banyak. Bulan Agustus 1956, dengan dikoordinir Universitas Kumamoto dilakukan penelitian yang lebih serius. Ditarik kesimpulan sementara, para penderita penyakit kerusakan otak dan saraf itu, disebabkan cemaran logam berat dalam kadar tinggi.Sorotan langsung ditujukan ke pabrik kimia Chisso, yang berada di kawasan Teluk Minamata. Sebuah kasus yang sulit, karean Chisso Company, adalah pabrik kimia yang menunjang ekonomi Jepang ketika itu.
Pabrik Chisso dimulai sebagai perusahaan energi hidroelektrik pada akhir jaman Meiji. Perusahaan Chisso berpusat di Tokyo, dan dua pabrik lainnya terletak di Chiba dan Okayama selain di Minamata. Pada tahun 1908 Chisso membangun pabrik karbit di Minamata menggunakan energi listrik.
Produk utama Pabrik Chisso di Minamata adalah kristal cair, pengawet, bahan pelembab, pupuk kimia, resin sintetis dan sebagainya. Di pabrik tsb, diproduksi asetal dehida, dengan cara reaksi gas asetilen dengan merkuri-sulfat. Asetal-dehida diolah lagi untuk menghasilan asam asetat dan PVC. Semua sampah bahan kimia itu, tanpa diolah terlebih dahulu, langsung dibuang ke laut di Teluk Minamata. Dampaknya, teluk Minamata tercemar dan sistem aquatik di sana menimbun sampah kimia dalam rantai makanannya.
Sejak jaman Taisho (1912-1926), pencemaran laut oleh limbah Chisso telah menjadi masalah. Walaupun begitu dalam tahun 1932-1968, Chisso tetap menggunakan merkuri anorganik sebagai katalis untuk memproduksi asetaldehid yang digunakan untuk membuat asam asetat dan pelemas plastik dengan menghasilkan produk sampingan metil merkuri yang dibuang ke laut tanpa pengolahan limbah hingga tahun 1966. Bahkan setelah diketahui sebagai penyebab penyakit Minamata, Chisso tetap menjalankan produksi. Dalam pengadilan pertama pada kasus penyakit Minamata, sikap pabrik yang tidak peduli ini mendapat kritikan keras.
Para penderita penyakit Minamata, menunjukan kadar Merkuri antara 200 sampai 500 mikrogram per liter darahnya. Sementara batasan aman menurut WHO adalah antara lima sampai 10 mikrogram Merkuri per liter darah.
Publikasi berbagai hasil penelitian itu, memicu kemarahan pemerintah Jepang. Dr. Hosokawa, direktur rumah sakit Minamata, dilarang melanjutkan penelitiannya. Menteri industri dan perdagangan nasional Jepang pada saat itu, Hayato Ikeda mengecam Universitas Kumamoto, karena publikasinya mengenai penyakit Mimamata dinilai membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Tapi penyakit kerusakan otak dan saraf ini tidak hanya terjadi di Minamata. Tahun 1965 penyakit Minamata menyerang warga yang tinggal di sepanjang Sungai Agano di Kota Niigata akibat pembuangan limbah merkuri oleh Showa Denko. Penyakit ini dikhabarkan juga terjadi di China dan Kanada. Sungai dan danau di Amazon dan Tanzania juga tercemar merkuri dan menimbulkan masalah kesehatan yang mengkhawatirkan.
Setelah ancamannya membesar, barulah pemerintah Jepang sadar, kebijakan industrinya ternyata merugikan rakyat kecil. Didirikanlah pusat penlitian penyakit Minamata. Para penderita yang masih hidup atau keluarga yang meninggal diberi ganti rugi.

F.     Pemulihan terhadap Minamata
Penderita Minamata dan Chisso membuat kesepakatan kompensasi pada bulan Juli 1973 berdasarkan keputusan pengadilan pada Maret 1973 yang menetapkan negosiasi langsung setelah persidangan. Sejak tahun 1975 kondisi keuangan Chisso semakin memburuk. Karena terancam tidak mampu membayar hutangnya, pemerintah pusat dari daerah Kumamoto memberi dukungan dana sejak tahun 1978 dengan jumlah 256,8 milyar yen hingga akhir Maret 2000 dalam Proyek terpadu pemulihan penyakit Minamata. Pemerintah Kumamoto dan Kagoshima akan membayar pengeluaran medis yang tidak tertanggung dalam asuransi kesehatannya, serta untuk pengeluaran pengobatan lainnya sebesar 17.200 sampai 23.500 yen perbulan sampai November 2000. Dan Chisso harus mengembalikan sebesar 161,1 milyar yen untuk Pemerintah Kumamoto.

Korban yang telah terdaftar menerima ganti rugi sebesar 16-18 juta yen, dan mendapat tambahan biaya pengeluaran tahunan untuk perawatan medis, biaya perawatan, pemakaman dan perawatan berendam di air panas, dan akupuntur . Disamping itu Chisso menggunakan bunga anggaran kompensasi untuk membiayai pemenuhan perlengkapan penderita Minamata, upah perawat, pembelian hadiah, terapi pijat dan transportasi ke rumah sakit. Bahkan bagi penderita yang belum terdaftar dan mengalami mati rasa pada tangan dan kaki akibat mengkonsumsi banyak ikan dan kerang, setiap penderita Minamata baik yang telah meninggal maupun masih hidup dan memenuhi persyaratan telah tercemar oleh metil merkuri (kecuali korban yang telah terdaftar) bersedia untuk tidak menuntut Chisso lebih lanjut dan menerima ganti rugi sebesar 2,6 juta yen.
Chisso memiliki hutang yang sangat besar untuk membayar kompensasi korban penyakit Minamata.
Jenis anggaran Jumlah dana termasuk bunga Keterangan :
Anggaran untuk pasien 164 milyar yen Pembayaran kompensasi bagi pasien yang telah terdaftar.
Anggaran untuk pengolahan lumpur 68,8 milyar yen Biaya pengolahan lumpur dan reklamasi pantai.
Anggaran untuk rekonstruksi Chisso 12 milyar yen Dana untuk membangun Chisso.
Anggaran pembayaran kompensasi bagi pasien yang belum terdaftar 12 milyar yen Pembayaran kompensasi bagi penderita yang belum terdaftar.
Jumlah keseluruhan 256,8 milyar yen.
Sedangkan Lumpur di Teluk Minamata yang telah mengandung merkuri di atas 25 ppm dipulihkan dengan mengeruk sebagian lumpur dan mereklamasinya yang menghabiskan 48,5 milyar yen selama lebih dari 14 tahun. Biaya pemulihan ini ditanggung oleh pemerintah Kumamoto. Akibatnya sebagian Teluk Minamata diurug hingga menjadi daratan seluas 58 hektar. Kualitas air di Teluk Minamata saat ini menjadi air yang paling bersih dan jernih di Kumamoto dan masyarakat tidak takut lagi untuk berenang dan bermain di sana. Untuk mencegah tersebarnya ikan yang terkontaminasi merkuri, pemerintah memasang jaring isolasi di mulut teluk pada tahun 1974 dan mendata nelayan yang menangkan ikan di sana. Bahkan Chisso membeli ikan yang ditangkap dari Teluk Minamata dan membuangnya.
Kandungan merkuri dalam ikan dan kerang di Minamata telah menurun sejak Chisso berhenti memproduksi asetaldehid. Pada tahun 1994, pemerintah Kumamoto menyebutkan bahwa tidak ada hewan yang mengandung merkuri dalam jumlah melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah yaitu 0,04 ppm total merkuri dan 0,3ppm metil merkuri. Gubernur Kumamoto menyatakan Minamata telah aman pada bulan Juli 1997 dan jaring isolasi dilepas pada bulan Oktober, sehingga ikan dan kerang di Teluk Minamata telah aman seperti ikan dari daerah lain yang tidak tercemar.



A.    Kesimpulan
Penyakit Minamata terjadi karena masyarakat banyak mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi metil merkuri dari limbah pabrik Chisso dan menimbulkan perpecehan di masyarakat. Tidak ada pengobatan tuntas bagi korban Minamata. Korban pergi ke rumah sakit untuk mengurangi gejala dan rehabilitasi. Pada akhirnya penduduk Minamata telah menyadari bahwa air dan makanan sangat penting bagi kehidupan, sehingga limbah industri dan rumah tangga harus dijaga dan dirawat, jangan sampai merusak lingkungan.
B.     Saran
Produksi masal dan konsumsi masal membuat hidup lebih nyaman tetapi juga menghasilkan limbah masal yang mengorbankan lingkungan dan kesehatan. Dikelilingi oleh asap, pupuk kimia, pengawet makanan dan bahan beracun lainnya. Kita tidak boleh mementingkan kehidupan materialis tanpa memperhatikan hubungan satu sama lain. Penyakit Minamata menunjukkan bahwa manusia menyebabkan terjadinya masalah sekaligus menjadi korban dari masalah yang dibuatnya sendiri.
Penyakit Minamata juga mengajarkan pada kita tentang kebersamaan dengan alam, bahwa kita dapat hidup karena adanya alam semesta, membina hubungan dengan manusia, sungai, laut, dan membutuhkan makanan yang aman, perlu mengurangi limbah rumah tangga dan industri serta berupaya melakukan daur ulang untuk mengatasi berbagai masalah global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar